Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Tari: Sesaji untuk Keselamatan Mangkunegaran dan Indonesia

Sabtu, September 26, 2015 Bimo Kusumo Aji 0 Comments Category : ,


Saat itu malam minggu, dan cuaca di luar, gerimis. Suasana yang sangat mendukung bagi saya untuk: Bermalas-malasan di tempat tidur. Bagi sebagian - mungkin bisa disebut, kebanyakan - anak muda seumuran saya, malam minggu adalah "malam keramat" yang harus benar-benar dimanfaatkan. Dimanfaatkan dalam hal bersenang-senang, bersama - ehem - pacar, teman, keluarga, apapun dan siapapun itu, berkutat dengan gebyar kehidupan kota dan beragam aktivitas kekinian ala-ala anak muda. Tapi mau dikata apa, badan sudah terlalu lelah karena aktivitas seharian, ber-malam minggu-an di atas kasur kamar kos tampaknya sangat menggiurkan. Sangat menggiurkan. Tapi kenyataannya, saya tidak tergoda dengan "rayuan suasana".

Jika saya lebih memilih tidur, mungkin teman saya yang sedang dalam perjalanan jauh-jauh dari Tawangmangu menuju kos-kosan saya di ujung timur Surakarta - baiklah, siapapun lebih mengenal kota tempat tinggal saya sekarang ini dengan sebutan Solo, tapi tak ada salahnya jika saya menggunakan nama asli kota ini, Surakarta - akan memaki saya sebagai makhluk Tuhan yang sudah ingkar janji. Karena sebelum ini, saya sudah menjanjikan kepada teman saya tentang sebuah "acara unik" yang diselenggarakan oleh Pura Mangkunegaran. Apa itu Pura Mangkunegaran ? Akan saya terangkan di tulisan ini. Singkatnya, setelah menolak "rayuan suasana", dengan berboncengan menggunakan sepeda motor, di bawah rintik hujan - ah, ini menggelikan - dan angin dingin, kami berdua sampai di halaman Dalem Prangwedanan, Pura Mangkunegaran Surakarta.

"Acara unik" yang saya maksud sebenarnya adalah Pagelaran Tari Wiyosan Septu Pon, yang memang rutin diadakan oleh Pura Mangkunegaran. Pura Mangkunegaran, adalah satu dari dua istana yang ada di Kota Surakarta. Istana atau kediaman penguasa dan pusat pemerintahan ini berdiri pada tahun 1757 sebagai realisasi dari Perjanjian Salatiga yang mengakhiri perselisihan RM. Said dengan Sunan Pakubuwono III, raja Kasunanan Surakarta, Sultan Hamengkubuwono I, raja Kasultanan Yogyakarta, dan VOC Belanda. Perjanjian itu menjadikan RM. Said sebagai penguasa yang merdeka dari Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta, bergelar gelar Adipati Mangkunegara I dengan wilayah kekuasaannya meliputi bagian utara Kota Surakarta, Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Wonogiri, serta wilayah Ngawen dan Semin. Wilayah kekuasaan Adipati Mangkunegara I ini disebut Kadipaten Mangkunegaran, yang sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945 resmi menyatakan diri bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia. Sejak saat itu, otomatis kedudukan Pura Mangkunegaran berubah, yang awalnya sebagai pusat pemerintahan Kadipaten Mangkunegaran, menjadi pusat pelestarian dan pengembangan budaya Jawa; baik secara keseluruhan maupun relik-relik pusaka bendawi dan non-bendawi milik Mangkunegaran. Begitupun kedudukan sang adipati, hanya sebagai pemimpin seremonial dan informal Pura Mangkunegaran.

Masih berjalan di atas pakem dan tradisi yang diwariskan leluhur, Pura Mangkunegaran sampai sekarang tetap menjaga warisan budaya yang dimiliki agar tidak punah tergilas roda zaman. Pagelaran Tari Wiyosan Septu Ponsalah satunya. Pergelaran ini diadakan rutin oleh Pura Mangkunegaran setiap selapan atau 35 hari pada hari Sabtu Pon dalam penganggalan Jawa, dalam rangka peringatan hari kelahiran (wiyosan) adipati Mangkunegaran yang saat ini memangku tahta, Adipati Mangkunegara IX. Beliau lahir pada hari Sabtu, 18 Agustus 1951, atau Sabtu Pon, 15 Dulkaidah 1882 menurut sistem penanggalan Jawa. Acara wiyosan ini berisikan pertunjukan tari-tarian klasik warisan adipati-adipati Mangkunegaran serta tidak lupa tari-tarian hasil dari kreasi seniman-seniman dan empu tari di Mangkunegaran, dan dibawakan langsung oleh penari-penari jempolan asuhan Mangkunegaran.

.
Digelar secara sederhana, dengan panggung acara adalah pringgitan di kawasan Dalem Prangwedanan, istana putra mahkota yang berada di sebelah timur Pura Mangkunegaran. Pringgitan sendiri adalah salah satu bagian dalam tata ruang rumah tradisional Jawa, semacam selasar yang seolah menjadi batas antara pendopo dandalem (bangunan induk). Para hadirin dan penonton disediakan tempat duduk - baik kursi maupun karpet besar untuk lesehan - di dalam pendopo, menghadap ke pringgitan. Datang ke acara ini, gratis, tanpa biaya sepeserpun bagi para tamu. Menunggu detik hingga menit sejak kedatangan kami di Prangwedanan, akhirnya kami membetulkan posisi duduk setelah sekian lama mengobrol, saat pranatacara alias pembawa acara membuka acara dengan Bahasa Jawa halus. Sesaat kemudian, gamelan kembali bersuara, dan bersamaan dengan terdiamnya para penonton, irama gending mengalir mengiringi para penari yang satu per satu melangkah menghadap hadirin, duduk bersimpuh dengan selendang kuning mengular di hadapan mereka. Tepat setelah sembah, mereka berdiri, dan memoles setiap mata kami dengan gerakan indah sarat makna.


.
Berbagai tarian dibawakan sepanjang acara, srimpiwirengkelanabambangan-cakil, dan sebagainya. Sesuatu yang sangat menarik bagi kami, anak-anak muda yang hidup di dalam gelembung budaya pop yang begitu besar, menyaksikan warisan leluhur yang tak ternilai harganya tersebut. Saat sebaya-sebaya kami tengah larut dalam suasana malam minggu ala kekinian, kami justru duduk bersila menghadap gemulai penari dengan busana klasik yang mungkin sekarang tak banyak diminati orang. Ini, seperti kebanggaan tersendiri bagi kami. Kanan-kiri kami berjajar orang-orang asing yang begitu khusyuk menikmati pergelaran. Ya, orang asing seperti mereka begitu tertarik dengan hal begini, mengapa kami sebagai "orang asli" justru malah menjauhinya ? Ah, tentu seharusnya tidak seperti ini.




Pergelaran wiyosan itu seperti sebuah museum hidup, yang menampilkan pusaka-pusaka Mangkunegaran berupa tari-tarian. Saya paham, bagaimana para adipati Mangkunegaran menguasai ilmu rohani dan keluhuran budi yang begitu kuat, mengingat setiap tarian ciptaan mereka selalu memiliki gerakan yang menyimbolkan pesan-pesan kehidupan. Bambangan-cakil misalnya, mengisyaratkan tentang perjalanan manusia seorang diri di tengah belantara dunia, melawan godaan, nafsu buruk, serta hal-hal negatif yang dapat menjatuhkan hidup. Dan di satu sisi, kekaguman saya muncul, karena setelah melihat semua wajah penari, mereka semua masih muda. Ada nafas lega, warisan ini masih memiliki masa depan cerah, karena masih banyak muda-mudi yang berkenan untuk melestarikan. Melestarikan memang tidak harus menjadi pelaku yang membawakan karya seni itu, tetapi dengan kita menyaksikan, kita mengagumi, kita mengetahui, dan kita bangga, sama saja kita sudah turut andil melestarikan warisan budaya tersebut.

Mangkunegaran adalah sebagian kecil dari kekayaan sejarah dan budaya di Surakarta. Yang telah turut memberi warna bagi peradaban lokal dan nasional dengan warisan seni-tradisi. Wiyosan, peringatan hari lahir, bermakna sebuah doa. Doa yang diiringi dengan seperangkat sesaji berupa pergelaran tari. Sesaji bermakna sebuah persembahan, sesuatu yang kita miliki, kita persembahkan kehadirat Tuhan, sebagai sarana doa. Mendoakan agar sang adipati, Mangkunegaran, Surakarta, dan Indonesia, senantiasa dalam keselamatan dan mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih.

Rahayu budayaku, rahayu negaraku.



RELATED POSTS

0 Komentar