Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Rasisme di Korea Selatan

Minggu, Maret 23, 2014 Bimo Kusumo Aji 2 Comments Category : ,



Perlu anda sekalian ketahui, sebagian besar warga Korea Selatan memiliki sifat "super bangga  dengan Korea". Tentu saja sama seperti orang Thailand bangga dengan Thailand, orangPerancis bangga dengan Perancis, orang Indonesia bangga dengan Indonesia, dll. Tapi di Korea, kebanggaan terhadap bangsa dan negaranya bukan hanya soal nasionalisme. Orang Korea, sebagai suatu masyarakat, itu adalah sarana kelangsungan pencarian jati diri kebangsaan (entitas) mereka

Korea Selatan, salah satu negara dengan komposisi entis penduduknya yang paling homogen di dunia. Bangsa Korea adalah nomor satu di Korea (sudah selayaknya). Negara ini pernah mengalami masa-masa pahit selama era negara terutup akibat trauma dengan ekspansi Mongol dan Cina, penderitaan semasa imperialisme Jepang, ketika dikhianati oleh Cina (yang merupakan "teman seperjuangan" mereka) semasa Perang Korea, dan sebagainya, membuat negara ini semakin "sensitif" dengan keberadaan "si asing".
 ,
.
Secara historis, Korea Selatan seakan diabaikan dalam kancah percaturan global yang lebih mengenal tetangga-tetangga Korea Selatan di sebelah timur dan barat. Semua orang tahu Cina dan Jepang, dan kenyataannya nama Korea Selatan tidak sepopuler dua negara yang disebutkan di awal. Terlebih lagi sebelum menjamurnya Hallyu (budaya pop Korea Selatan), Korea Selatan adalah nama yang asing bagi sebagian bangsa (terutama non Asia).

Nasionalisme di Korea Selatan adalah cara untuk memastikan relevansi pada skala global. Juga, nasionalisme di Korea Selatan adalah sarana bagi mereka untuk secara tidak langsung menanamkan image kenomorsatuan Korea Selatan (secara harfiah) paska era penjajahan Jepang kepada generasi muda Korea Selatan.

  • Rasisme Korea Selatan terhadap Jepang (Sentimen Anti-Jepang di Korea Selatan)  
 .
 
Korea (saat itu masih berbentuk Kerajaan Joseon) dijajah oleh Jepang selama 35 tahun, sejak tahun 1910 hingga 1945. Selama Perang Dunia II Jepang melakukan banyak hal kejam terhadap banyak negara di Asia Timur dan Asia Tenggara, bukan hanya Korea. Dalam kasus Korea, bagaimanapun, Jepang berusaha untuk mengasimilasikan kebudayaan dan adat kebiasaan Jepang terhadap orang Korea. Bahasa Korea pada dasarnya dilarang di sekolah-sekolah, dan pembelajaran kelas dilakukan 100% dalam Bahasa Jepang. Bahkan sampai hari ini, ada kasus bahwa seorang nenek berusia 81 tahun masih lebih nyaman membaca dan menulis dalam Bahasa Jepang daripada dalam Bahasa Korea karena pendidikan masa lalunya. Dia benar-benar fasih, dan ketika berkomunikasi dia masih sering mencampur Bahasa Jepang dengan Korea tanpa menyadarinya.

Tapi masalah bahasa lebih kecil dibandingkan dengan masalah budak seks. Selama Perang Dunia II, Jepang menggunakan wanita Korea sebagai budak seks untuk "meningkatkan moral" para kalangan militer mereka. Perempuan diperbudak untuk melayani ribuan tentara Jepang. Ini adalah masalah diplomatik yang sangat besar bahkan sampai hari ini (juga terjadi di Indonesia). Korban budak seks terus menuntut pemerintah Jepang untuk meminta maaf secara resmi, yang sampai saat ini Jepang belum pernah mau mengakui kesalahannya.

Jadi penjajah Jepang mencoba untuk menghilangkan bahasa dan budaya Korea, dan mereka memperbudak wanita Korea untuk kebutuhan seks. Bagi mereka yang hidup melalui era rasisme dan kebencian ini adalah reaksi yang wajar dan dapat dimengerti. Untuk Korea, rasisme terhadap Jepang merupakam wujud dari kebanggaan nasional ekstrim mereka dan keinginan mereka agar Jepang mengakui segala kekejamannya ketika menjajah Korea di masa lalu.

Sentimen Anti-Jepang juga didorong oleh pemerintah untuk tingkat tertentu, karena pemerintah Korea Selatan melarang impor budaya Jepang (yaitu musik, film, komik, acara tv, dll.) sampai akhir tahun '90-an. Dan tentu saja, ada keluarga yang mengajarkan bentuk rasisme Anti-Jepang kepada anak-anak mereka.

  • Rasisme Korea Selatan terhadap Imigran Asia Tenggara / Asia Lainnya

http://www.youtube.com/watch?v=1I5sCa090rw
.
Dalam kasus untuk orang-orang Vietnam, Indonesia, Thailand, dan Filipina, sebagai imigran Asia yang paling banyak datang ke Korea Selatan. Sebagian besar dari mereka datang sebagai pengantin asing bagi pria Korea, dan banyak juga melahirkan anak antar-ras. Peningkatan pesat ini dalam pernikahan dan keluarga internasional dimulai pada tahun 2000-an dan berlanjut hingga hari ini. Ini adalah fenomena baru yang terjadi sangat cepat

Mereka memandang "imigran dari selatan" ini secara fisikal lebih "rendah" daripada mereka. Begitu pula dalam konteks pekerjaan dan derajat hidup, mereka semakin dipandang sebelah mata.

  • Rasisme Korea Selatan terhadap Orang Berkulit Hitam



Rasisme terhadap orang kulit hitam (Afrika, Pasifik, Karibia, dll.) berasal dari adanya rasa ketakutan berlebihan yang tidak diketahui. Sekali lagi, Korea Selatan secara historis adalah salah satu negara dengan komposisi etnis paling seragam (homogen) di dunia. Dan meskipun banyak orang Kaukasia dan orang Asia lainnya di Korea Selatan, kenyataannya adalah bahwa beberapa orang Korea sangat sensitif dan terkesan menjauhi orang kulit hitam. Sama seperti kebanyakan bentuk rasisme, yang satu ini adalah murni muncul dari egoisme dan kebodohan orang-orang Korea itu sendiri. 

Dan memang faktanya, sebelum berakhirnya Perang Dunia II, orang Korea Selatan sama sekali tidak pernah berhubungan (bahkan tidak mengenal) dengan bangsa-bangsa ras kulit hitam dari berbagai belahan dunia.

  • Rasisme Korea Selatan terhadap Cina

 

Di Korea Selatan, etnis Cina merupakan imigran terbanyak

Para imigran di Korea Selatan pada umumnya berasal dari negara-negara menengah ke bawah mencari peluang untuk kehidupan yang lebih baik. Karena mereka datang dari negara-negara miskin, imigran di negara manapun biasanya disalahkan karena mencuri peluang pekerjaan bagi warga Korea Selatan itu sendiri, menyebabkan bahaya, dan membahayakan penduduk, serta mereka umumnya memiliki reputasi buruk. Juga, ketika seorang imigran dan warga pribumi melakukan kejahatan yang sama, biasanya si imigran lah yang akan disorot secara berlebihan dalam berita dan bukan si warga asli. Hal ini terjadi di sebagian besar negara, tidak hanya di Korea. Dan di Korea, kebetulan bahwa populasi imigran Korea didominasi oleh etnis Cina. 

Banyaknya imigran Cina pasti adalah salah satu alasan utama untuk rasisme Anti-Cina di Korea Selatan. 

._.


Artikel ini ditulis menurut sudut pandang orang-orang Non-Korea dalam memandang sifat "aneh" orang-orang Korea tersebut.Walaupun kenyataannya, tidak semua South Koreans adalah orang-orang rasis.


  

RELATED POSTS

2 Komentar