Fakta Unik Kota Surabaya




Cuman mau bagi-bagi trivia dan fakta-fakta seputar Kota Surabaya. Kota Pahlawan, kota metropolitan, kota adipura, kota-ku dan kota yang sangat kita cintai serta kita banggakan. Sebagai kota besar yang sudah berusia lebih dari 7 abad, Surabaya menyimpan berbagai cerita yang menarik, keunikan, pesona, dan daya tarik.



Rek, berikut adalah trivia dan fakta-fakta unik seputar Kota Surabaya.



Statistik Kota Surabaya (Sumber : Wikipedia Indonesia)


Luas
 • Total 374.8 km2 (144.7 mil²)
Populasi (2012)
 • Total 3,123,914 jiwa (2010)
Demografi
 • Suku bangsa Jawa (83,68%), Madura (7,5%), Tionghoa (7,25%), Arab (2,04%), dll
 • Agama Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu
 • Bahasa Jawa, Indonesia, Madura
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode telepon +62 31






> Surabaya pada zaman dahulu dikenal dengan nama Hujung Galuh (Jenggala), sebuah desa pelabuhan yang terletak di muara Sungai (Kali) Mas, salah satu anak Sungai Brantas (sungai terpanjang dan terbsesar di Jawa Timur).

Pemandangan Kali Mas tempo dulu


> Nama “Surabaya” diambil dari legenda pertempuran ikan sura dan buaya (baya), yang sebenarnya itu merupakan perumpamaan (simbolisme) dari kemenangan pasukan Dyah Wijaya (menantu Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari sekaligus pendiri Kerajaan Majapahit) dalam mengusir tentara Mongol dari Dinasti Yuan. Pasukan Mongol (Tatar) yang datang dari laut digambarkan sebagai “ikan sura”, sedangkan pasukan Jawa yang menyerang dari darat digambarkan sebagai “buaya (baya)”. Kemenangan pasukan Wijaya terjadi pada tanggal 31 Mei 1293 dan oleh Gubernur R.M. Suryo tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya. Relief legenda sura dan baya juga dapat di temukan situs bersejarah Goa Selomangleng di lereng Gunung Klotok, Kota Kediri. Faktanya, desa pelabuhan Hujung Galuh sebagai cikal bakal Surabaya moderen sudah lebih dulu berdiri, jauh sebelum pertempuran pasukan Jawa melawan pasukan Mongol terjadi. Semasa Kerajaan Majapahit, Surabaya menjadi gerbang utama bagi siapa saja yang hendak mengunjungi ibukota Majapahit di Trowulan melalui jalur laut (via Sungai Brantas).

Arca Joko Dolog


> Satu-satunya peninggalan era Hindu-Budha yang dapat dijumpai di Surabaya saat ini adalah arca Joko Dolog yang terletak di belakang Taman Apsari (depan Istana Grahadi – rumah dinas gubernur Jawa Timur). Arca ini sebenarnya adalah arca Buddha Maha Aksobya. Yang unik, ada prasati pada badan Joko Dolog, tepatnya pada dudukan sang arca. Pada lapiknya terdapat prasasti yang merupakan sajak, memakai huruf Jawa kuno, dan berbahasa Sansekerta. Dalam prasasti tersebut disebutkan tempat yang bernama Wurare, sehingga prasastinya disebut dengan nama Prasasti Wurare. Angka prasasti menunjukkan 1211 Saka yang juga menurut legenda patung ini dibuat dan ditulis oleh seorang abdi Prabu Kertanegara dari Kerajaan Singosari bernama Nada. Sejarah penemuan arca Joko Dolog tidak terlepas dari legenda yang tersebar di masyarakat. Ada salah satu versi yang mengatakan, arca Joko Dolog ditemukan di daerah Malang pada tahun 1812 oleh Belanda, dan saat itu akan dikapalkan ke Amsterdam lewat pelabuhan Tanjung Perak. Ketika di kapal, arca Joko Dolog menjadi demikian berat. Sehingga kapal yang membawanya tidak bisa jalan. Singkat cerita patung tersebut akhirnya ditinggalkan di Surabaya dan diletakkan di suatu tempat yang sekarang menjadi Taman Apsari (dulu bernama Simpangschepark atau Kroesenpark).

Masjid Ampel


> Penyebar agama Islam pertama di Surabaya adalah Sunan Ampel (Raden Rahmat), salah satu dari Wali Songo. Beliau mendirikan masjid pertama di Surabaya yang sampai sekarang disebut Masjid Ampel dan daerah sekitarnya disebut Kampung Ampel. Kawasan ini sekarang terkenal sebagai kawasan “Kampung Arab” dan pusat wisata religi terbesar di Surabaya.

Bekas gapura keraton Kadipaten Surabaya


> Ada keraton di Surabaya ? Seperti halnya pusat kekuatan politik di Pulau Jawa abad ke 17 (Banten, Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta), Surabaya sebagai kadipaten bawahan Kesultanan Mataram yang paling kuat dan paling kaya di bagian timur Pulau Jawa saat itu “pernah” memiliki sebuah bangunan keraton. Bekas lokasi keraton Kadipaten Surabaya berada di lingkungan Kampung Kraton yang terletak di antara Jalan Pahlawan dan Jalan Kramat Gantung. Sudah tak dapat disaksikan lagi wujud bangunan utamanya, satu-satunya bagian keraton yang tersisa saat ini adalah sebuah gapura bercat putih (regol) yang terletak di ujung Gang II Kampung Kraton. Sementara lokasi alun-alunnya diperkirakan terletak di depan Baliwerti (Alun-Alun Contong) dan yang satu lagi adalah lapangan yang kini dijadikan sebagai kompleks Tugu Pahlawan dan Museum 10 November. Walaupun sudah tak berbekas, sampai sekarang masih dapat disaksikan berbagai nama tempat yang menunjukkan keterkaitannya dengan keraton, seperti Kraton, Kramat Gantung, Baliwerti, Bubutan, Praban, Kebon Rojo, Kepanjen, Keputran, Carikan, Kepatihan, dsb.

Balaikota Surabaya


> Tahukah anda bahwa Balaikota Surabaya yang begitu megah itu rupanya hanyalah sebuah gedung bagian belakang dari kompleks pusat pemerintahan besar ? Pembangunan sebuah “mega proyek” kantor pemerintahan di Jalan Ketabang ini sebenarnya dimulai pada tahun 1923 dengan arsitek C. Citroen dan pelaksana H. V. Hollandsche Beton Mij. Bagian yang lebih dulu selesai dibangun adalah bagian belakang gedung yang kini berfungsi sebagai balaikota, dan bagian depan gedung sebagai bangunan utama tidak pernah selesai dibangun karena terkendala masalah pendanaan. Desain kompleks perkantoran ini awalnya membentuk huruf O. Andaikata bangunan utama tersebut dibangun ulang pada saat ini, mungkin akan “menebas” Jalan Sedap Malam dan Jalan Jaksa Agung Suprapto, serta bangunan-bangunan di Jalan Yos Sudarso. Pintu masuk utama direncanakan berada tepat di Jembatan Ketabang.  Pada awal perencanaannya, desain bangunan ini dipersiapkan untuk mengalahkan kompleks Gedung Sate di Bandung sebagai gedung perkantoran gubermen terbesar saat itu. Secara resmi kompleks ini mulai ditempati pada tahun 1927, dan pembangunannya menghabiskan biaya sekitar 1.000 gulden. 

Kebun Binatang Surabaya


> Kebun Binatang Surabaya merupakan kebun binatang dalam kota terbesar di Asia Tenggara. Dibangun pada 31 Agustus 1916 dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang. Pada masa awal pendiriannya, kebun binatang ini bahkan menjadi kebanggaan Ratu Wilhelmina. Kawasan ini hingga sekarang menjadi salah satu ikon Kota Surabaya.



> Kompleks Taman Budaya Jawa Timur dan Gedung Cak Durasim di Jalan Genteng Kali yang sekarang berdiri sebenarnya adalah bekas bangunan Pendopo Kabupaten Surabaya. Kini bangunan pendopo difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan event-event seni dan budaya serta tempat berlatih menari.

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga


> Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sebenarnya bercikal-bakal dari sebuah sekolah dokter yang didirikan ke dua di Indonesia setelah di Jakarta (STOVIA). Didirikan atas keputusan pemerintah "Besluit van de Gouverneur General van Nederlandsch Indie van 8 Mei 1913 No. 4211" dan diresmikan pembukaannya pada tanggal 1 Juli 1913 dengan nama Nederlandsch Indische Artsenschool (NIAS).



> Gereja Katolik pertama di Surabaya adalah Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria yang dibangun pada tahun 1815. Berlokasi di Jalan Kepanjen, bangunan religius ini berdampingan dengan gedung SMA Katolik Frateran Surabaya. Pada awalnya, dua orang pastor, Hendricus Waanders dan Phillipus Wedding, pada tanggal 12 Juli 1810 datang dari Belanda. Pastor Wedding kemudian bertugas ke Batavia sementara Pastor Waanders menetap di Surabaya.

Pintu Air Kali Jagir


> Hampir semua warga Surabaya Timur tahu Kali Jagir. Sebuah kanal buatan pemerintah Belanda yang berfungsi untuk mengalihkan sebagian aliran Kali (sungai) Mas. Di muara kanal ini terdapat kawasan hutan mangrove dengan ekosistem flora dan fauna langka (kini dikenal sebagai kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo). Sebuah jembatan kayu berwarna hijau bernama Treteg Ijo sempat menjadi legenda di kawasan sekitar Kali Jagir. Konon, di bawah jembatan itu tinggal seekor siluman buaya putih. Melalui Kali Jagir inilah, pernah ada seorang tokoh yang dikenal sebagai "Pak Pesek" sang penyelamat yang dikenal banyak orang. Konon, beliau memiliki kemampuan menyelam dalam waktu yang cukup lama yaitu sampai berjam-jam tanpa alat bantu, dan menguasai semua buaya dan makhluk halus di kedua sungai. Sekarang Treteg Ijo sudah dibongkar oleh pemerintah kota dan digantikan dengan jembatan moderen yang terletak tak jauh di sebelah timur lokasi jembatan lama. Lokasi jembatan ini terletak di Kelurahan Semampir, Kecamatan Sukolilo.



> Sebelum dibangunnya Pelabuhan Tanjung Perak, pelabuhan besar pertama di Surabaya adalah Pelabuhan Kali Mas. Lokasi pelabuhan utama tersebut merupakan jantung perdagangan Surabaya. Dekat dengan pelabuhan tersebut ada sebuah jalan bernama Heeresentraat (sekarang berada disekitar Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun) yang merupakan sentral bisnis bongkar muat. Di antara kedua jalan itu, sudah ada jembatan yang membentang di atas Kali Mas. Jembatan itulah yang disebut Roode Brug atau Jembatan Merah.

Jembatan Merah


> Tahukah anda tentang Jembatan Merah ? Jembatan yang sudah ada sejak zaman VOC menguasai Surabaya ini merupakan sekelumit dari sekian banyak monumen penting dalam sejarah Revolusi Indonesia, khususnya di Surabaya. Kawasan sekitar Jembatan Merah merupakan daerah perdagangan yang mulai berkembang sebagai akibat dari perjanjian antara Sri Sunan Pakubuwono II dari Kesunanan Kartasura (Mataram) dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu sebagian daerah pantai utara Jawa, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Sejak saat itu wilayah Surabaya berada sepenuhnya di dalam kekuasaan VOC (Belanda). Dinamakan “Jembatan Merah” karena menurut cerita, pada saat pertempuran 10 November 1945 pecah, jasad-jasad para pejuang yang gugur dihanyutkan di Kali Mas, dan akibatnya darah dari tubuh pejuang-pejuang tersebut memerahkan aliran Kali Mas, hingga membuat kaki jembatan tersebut “merah darah”.

Pecinan Kembang Jepun


> Ada little China di Surabaya ? Datanglah ke kawasan Jalan Kembang Jepun dan sekitarnya. Jalan Kembang Jepun dulunya dinamakan Handelstraat (handel berarti perdagangan, straat artinya jalan), yang kemudian tumbuh sangat dinamis. Pada zaman pendudukan Jepang-lah nama Kembang Jepun menjadi terkenal, ketika banyak serdadu Jepang (Jepun) memiliki teman-teman wanita (kembang desa) di sekitar daerah ini. Kawasan ini sangat identik dengan Pecinannya Surabaya. Kelenteng tertua di Surabaya, Kelenteng Hok An Kiong, juga berada di kawasan pecinan ini.

Sinagog Jalan Kayon


> Sinagog Yahudi di Surabaya (menurut beberapa sumber merupakan satu-satunya di Indonesia) pernah berdiri di Jalan Kayon No. 4-5. Dari luar, bangunan tersebut tampak seperti rumah biasa. Satu hal yang membedakan adalah terdapatnya logo Bintang Daud dan tulisan Bahasa Ibrani di pintu masuk depan. Bangunan itu awalnya adalah rumah yang ditinggali oleh seorang dokter keturunan Yahudi Belanda. Pada tahun 1939, (beberapa sumber mengatakan tahun 1948), rumah tersebut diubah fungsinya menjadi sinagog. Bangunan itu kini sudah dirobohkan sekarang. Meski saat ini Indonesia tidak mengakui Yahudi sebagai agama resmi, keberadaan bangunan tersebut menjadi bukti bahwa di masa lalu bangsa Indonesia pernah hidup berdampingan dengan bangsa Yahudi. Bagi mereka yang mempelajari perjuangan arek-arek Suroboyo pada peristiwa 10 November 1945, tentu ingat dengan tokoh Charles Mussry. Ia adalah Yahudi Surabaya yang saat itu membantu arek Suroboyo untuk mengusir Belanda.



> Gedung bioskop pertama di Surabaya adalah Bioskop Maxim & Sky (Bioskop Indra), yang awalnya merupakan Gedung Simpang Restaurant yang direnovasi pada tahun 1930-an menjadi kompleks bioskop. Letaknya di perempatan Simpang-Palmenlaan (kini Jalan Gubernur Suryo - Jalan Pemuda). Disini terdapat dua bioskop dan sebuah dancing club bernama Gaieté dan kelab malam Cercle Hellendoorn. Lalu ada macam-macam toko, antara lain sebuah toko es dan toko bunga Myrtha. Sekarang gedung Bioscoop Maxim & Sky sudah terbakar dan hanya meninggalkan bekas puing-puing bangunan yang tak terurus.

Hotel Majapahit


> Hotel Oranje (sempat juga bernama LMS, lalu Hotel Yamato, dan sekarang menjadi Hotel Majapahit) adalah sebuah gedung bersejarah di Jalan Tunjungan No. 65. Merupakan hotel termewah di Surabaya saat itu, bangunan ini sebenarnya didirikan oleh Sarkies Bersaudara, keluarga pedagang dari Armenia. Pada 18 September 1945, di tempat ini terjadi insiden heroik perobekan bendera Belanda oleh Hariyono dan Kusno Wibowo bersama arek-arek Suroboyo lainnya, sebagai akibat dari ketegangan perundingan yang dilakukan oleh Residen Sudirman dan Mr. Ploegman mengenai ketidakmauan Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Rumah kelahiran Soekarno di Jalan Pandean

> Tahukah anda bahwa Presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno, lahir di Surabaya dan bukan di Blitar sebagaimana sering tercantum dalam buku-buku sejarah selama ini ? Dalam seminar Pelurusan Sejarah Soekarno di Balai Pemuda, Surabaya, 28 Agustus 2010, disebutkan bahwa Bung Karno dilahirkan di Surabaya, bukan di Blitar. Pada akhir tahun 1900, ayahanda Soekarno, R. Soekani Sosrodiharjo, dipindahtugaskan dari Singaraja, Bali, menjadi guru Sekolah Rakyat (SR) Sulung, Surabaya. Di Surabaya itulah, istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben, pada 6 Juni 1901 melahirkan seorang putra yang diberi nama Kusno Sosrodihardjo yang kemudian menjadi Soekarno. Ida Ayu melahirkan Soekarno di sebuah rumah di Gang Peneleh, dekat rumah H.O.S. Tjokroaminoto.



> Sutomo alias Bung Tomo, salah satu pemimpin dan orator ulung pada masa-masa Pertempuran Surabaya, pada faktanya baru diakui sebagai pahlawan nasional pada 10 November 2008.

Para pejabat gemeente Surabaya pada tahun 1930-an


> Walikota Surabaya yang pertama adalah Mr. Meyroos, yang dilantik tahun 1916 atau sepuluh tahun sejak Pemkot Surabaya alias Gemeente van Soerabaia dibentuk. Namun dia sejatinya tidak memberi banyak perubahan. Dia seorang administratur. Tugasnya masih menata sistem di masa-masa pertama kota ini, menggali sumber pendapatan, dan lain-lain. Fondasi yang dibangun di Surabaya itupun dianggap berhasil karena pasca pensiun dari Surabaya tahun 1921 dia diangkat jadi walikota Batavia alias Jakarta.



> Bagi warga Surabaya, pernakah anda mendengar nama Sunarto Sumoprawiro ? Ini dia walikota Surabaya yang paling kontroversial. Dia terkenal sebagai pemimpin yang peduli wong cilik sekaligus akrab dengan para pemodal. Di masanya para PKL begitu dimanja. Tidak pernah digusur. Akibatnya, lama-kelamaan berbagai sudut kota mnjadi kumuh dan ruwet karena menjamurnya PKL. Pada era pemerintahannya juga banyak sekali aset pemerintah kota yang dijual, ditukar guling, bahkan disewakan hingga puluhan tahun.

Walikota Tri Rismaharini (dua dari kiri) dan Wakil Walikota Bambang D.H. (kanan)



>.Pembangunan dan perombakan wajah fisik Kota Surabaya secara besar-besaran dimulai pada era pemerintahan Walikota Bambang D. H. dan diteruskan oleh walikota perempuan pertama di Surabaya, Tri Rismaharini.



> Walikota Tri Rismaharini adalah salah satu dari tiga kepala daerah dari Indonesia yang pada tahun 2012 masuk dalam daftar nominasi penghargaan kepala daerah terbaik dunia (World Mayor Prize) oleh City Mayors Foundation. Dua lainnya adalah Walikota Joko Widodo (Surakarta) dan Gubernur Syarul Yasin Limpo (Sulawesi Selatan). 

Soenarjo sebagai seorang dalang


> Jabatan wakil walikota resmi di Indonesia pertama kali diterapkan di Surabaya. Soenarjo, pada tahun 1988 dilantik menjadi wakil walikota Surabaya mendampingi Walikota Purnomo Kasidi, sekaligus menjadi wakil walikota pertama di Indonesia. Soenarjo yang juga pernah menjabat wakil gubernur Jawa Timur kini aktif sebagai dalang dan anggota DPRD Jawa Timur.



> Surabaya merupakan kota terbesar ke dua di Indonesia setelah Jakarta (jika diurutkan secara jumlah populasi), sekaligus sebagai pusat perekonomian wilayah Indonesia Timur dan kota yang memiliki perkembangan pembangunan gedung bertingkat paling pesat setelah Jakarta. Wilayah metropolitan Surabaya (Gerbangkertosusilo) juga merupakan metropolitan terbesar ke dua setelah metropolitan Jakarta (Jabodetabek).

Walikota Tri Rismaharini merayakan perolehan Piala Adipura Kencana bersama Pasukan Kuning


> Surabaya juga menjadi langganan peraih Piala Adipura Kencana sebagai Kota Metropolitan Terbersih di Indonesia.



> Belum ke Surabaya jika anda belum mengunjungi Tugu Pahlawan. Tugu yang dibangun pada tahun 1951 ini memiliki tinggi sekitar 40 meter pada lahan seluas 2,5 hektar dan berbenuk seperti pensil. Sebelum dibangun Tugu Pahlawan, lahan seluas 2,5 hektar tersebut merupakan kantor Raad van Justitie (Pengadilan Tinggi) Hindia Belanda; dan jauh sebelum itu, merupakan bekas alun-alun keraton Kadipaten Surabaya. Diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno didampingi Walikota Moestajab Soemowidigdo, kompleks monumen dan museum ini didedikasikan untuk memperingati pertempuran 10 November 1945 dan mengenang kehebatan para pahlawan dan pejuang pada saat itu.

Kompleks Tugu Pahlawan dan Museum 10 November




> Taman Bungkul yang sekarang sebenarnya dulunya merupakan lapangan luas yang terletak di depan Makam Sunan Bungkul, seorang ulama penyebar agama Islam. Lapangan tersebut berfungsi sebagai tempat menggelar pertunjukan wayang, band, dangdut, dsb. Sejak pemerintahan Walikota Bambang D. H. lapangan tersebut dirombak dan dijadikan taman sebagai pusat rekreasi keluarga.



> Sebuah kawah lumpur aktif ternyata juga terdapat di Surabaya. Berlokasi di Surabaya Timur, tepatnya di Kampung Gunung Anyar. Di sebuah bukit yang terletak di tengah pemukiman warga sudah sejak lama mengeluarkan kumpur asin yang mengandung minyak. Konon, sebenarnya bukit itu sendiri terbentuk karena aliran lumpur itu sendiri. Di bukit tersebut merupakan daerah subur yang dipenuhi tumbuhan kaktus dan trembesi.

Bandara Internasional Juanda


> Terminal Purabaya (Bungurasih) dan Bandara Juanda sebagai terminal bus terbesar di Indonesia dan bandara terbesar ke dua di Indonesia sebenarnya terletak di luar wilayah administrasi Kota Surabaya. Terminal Purabaya terletak di Kecamatan Waru, dan Bandara Juanda terletak di Kecamatan Sedati; dua-duanya merupakan wilayah Kabupaten Sidoarjo.



> Pasar Turi yang terletak di Jalan Raya Dupak merupakan pusat grosir dan eceran terbesar di Indonesia timur. Pasar ini mulanya hanya sebuah pasar tradisional yang berada di dekat rel kereta api dan banyak terdapat penjual sayur bunga turi sehingga lama kelamaan pasar tersebut dikenal sebagai Pasar Turi.

Lontong Balap


> Makanan khas Surabaya yang telah dikenal luas di seluruh Indonesia adalah rujak cingur, tahu campur, dan lontong balap. Kekayaan kuliner asli Surabaya yang lain adalah semanggi, tahu thek, ketas (ketan hitam yang diberi gula), dan lontong kupang.



> Perusahaan rokok Sampoerna didirikan pada tahun 1913 oleh Liem Seeng Tee, seorang imigran asal Cina, mulai membuat dan menjual rokok kretek linting tangan di rumahnya di Surabaya, Indonesia. Perusahaan kecilnya tersebut merupakan salah satu perusahaan pertama yang memproduksi dan memasarkan rokok kretek maupun rokok putih. Kini Sampoerna telah berkembang pesat sebagai salah satu industri rokok terbesar di Indonesia, serta aktif di bidang pendidikan, sosial, dan budaya, termasuk mendirikan Museum House of Sampoerna dan memprakarsai sebuah paket perjalanan wisata sejarah Surabaya, Surabaya Heritage Track.

Bus Surabaya Heritage Track


> Dialek Surabaya yang dipandang oleh orang Jawa sebagai dialek Bahasa Jawa yang paling kasar, sebenarnya mencermikan sifat orang Surabaya yang egaliter, tidak suka basa-basi, dan merakyat. Orang Surabaya tidak cocok dengan Bahasa Jawa Dialek Mataram (Surakarta-Yogyakarta) yang sangat kaku dan mengenal sekat-sekat dalam penggunaan bahasa. Dialek ini dituturkan di wilayah sekitar Surabaya (Gresik dan Sidoarjo), Lamongan, Mojokerto, Jombang, Malang Raya, Pasuruan, dan sebagian kawasan Tapal Kuda.



> Jancok adalah sebuah kata yang menjadi ciri khas komunitas masyarakat di Jawa Timur, terutama Surabaya dan Malang. Normalnya, kata tersebut digunakan sebagai umpatan pada saat emosi meledak, marah, atau untuk membenci dan mengumpat seseorang. Menurut Edi Samson, seorang anggota Cagar Budaya di Surabaya, istilah Jancok atau Dancok berasal dari Bahasa Belandayantye ook” yang memiliki arti “kamu juga”. Istilah tersebut diplesetkan oleh para remaja Surabaya untuk mencemooh warga Belanda atau keturunan Belanda dan mengejanya menjadi “yanty ok” dan terdengar seperti “yantcook”. Versi lain mengatakan, kata “Jancok” berasal dari kata Sudanco berasal dari zaman romusha yang artinya “Ayo Cepat”. Karena kekesalan pemuda Surabaya pada saat itu, kata perintah tersebut diplesetkan menjadi “Dancok”. Versi lain lagi menyebutkan bahwa kata “Jancuk” berasal dari kata kerja “diencuk” (disetubuhi). Kata tersebut akhirnya berubah menjadi “Dancuk” dan terakhir berubah menjadi “Jancuk” atau “Jancok”. Kata “Jancok” merupakan kata yang tabu digunakan oleh masyarakat Jawa secara umum karena memiliki konotasi negatif. Namun, penduduk Surabaya dan Malang menggunakan kata tersebut sebagai identitas komunitas mereka sehingga kata “Jancok” memiliki perubahan makna ameliorasi (perubahan makna ke arah positif).

Pengantin Loro Pangkon


> Pernikahan khas Surabaya disebut "Loro Pangkon" (manten pegon). "Loro Pangkon" atau "Jago Loro Pangkon", disebut demikian karena sebelum memasuki upacara temu, pengantin pria datang dengan diawali seseorang yang membawa seekor jago. Jadi seolah-olah pengantin diibaratkan seekor ayam jago yang sedang mendekati ayam betina. Loro berarti dua, melambangkan dua orang manusia, sedangkan Pangkon merupakan simbol bersatunya kedua orang tersebut dalam ikatan perkawinan.



> Kesenian drama komedi panggung “ludruk” (secara komersil) sebenarnya bukan asli dari Surabaya. Tahun 1890, Gangsar, yang berasal dari Desa Pandan, Kabupaten Jombang, adalah orang yang pertama kali mencetuskan kesenian ludruk ini dalam bentuk ngamen (berkeliling dari rumah ke rumah) dan tarian. Bentuk inilah yang menjadi cikal bakal kesenian ludruk. Mengenai asal usul kata ludruk terdapat beberapa pendapat. Cak Markaban, tokoh Ludruk Triprasetya RRI Surabaya, mengatakan bahwa ludruk berasal dari kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Jadi yang membawakan ludrukan itu, kepalanya menggeleng-geleng (gela-gelo) dan kakinya gedrak-gedruk (menghentak lantai) seperti penari Ngremo. Sedangkan menurut Cak Kibat, tokoh Ludruk Besutan, bahwa ludruk itu berasal dari kata molo-molo lan gedrak-gedruk. Artinya seorang peludruk itu mulutnya bicara dengan kidungan dan kakinya menghentak lantai gedrak-gedruk. Prosesi pertunjukan ludruk biasanya didahului dengan Tari Remo dan kidungan jula-juli.

Cak Kartolo dan Cak Sapari


> Hampir semua warga Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya pasti mengenal Ludruk Kartolo CS. Grup ludruk paling fenomenal ini terdiri dari Kartolo, Basman, Sapari, Sokran, Blonthang, Munawar, Tini (istri Kartolo), tergabung dalam kesenian karawitan Sawunggaling Surabaya. Biasanya ludruk kartolo ini juga dilengkapi oleh bintang tamu seperti Marlena, Cak Sidiq, dan lain-lain. Faktanya, walaupun memiliki nama besar di Surabaya, Cak Kartolo bukanlah kelahiran asli Surabaya. Kartolo lahir di Pasuruan, 2 Juli 1945.



> Grup kesenian ludruk paling unik di Surabaya adalah Ludruk Irama Budaya, yang semua pemainnya adalah laki-laki. Bahkan untuk peran waranggana, ibu-ibu, anak gadis, dan peran-peran wanita lainnya juga tetap diperankan oleh pemeran laki-laki. 

Ludruk Irama Budaya


> Pernahkah anda mendengar lirik lagu yang berbunyi, “Rek, ayo rek, mlaku-mlaku nang Tunjungan ... ” ? Lagu tersebut berjudul Rek ayo Rek, merupakan ciptaan dari Is Hariyanto dan dipopulerkan oleh penyanyi Mus Mulyadi. Lagu ini menjadi lagu paling merakyat di kalangan warga Surabaya.



> THR Surabaya adalah tempat pertama kali bagi grup lawak fenomenal Srimulat melakukan pertunjukan tetap pada tahun 1961.



> Stasiun televisi swasta-nasional SCTV sebenarnya lahir di Surabaya. SCTV lahir pada tanggal 24 Agustus 1990 sebagai stasiun televisi lokal di Surabaya yang berpusat di Jalan Darmo Permai, Surabaya, dimana SCTV pada awalnya didirikan untuk menayangkan acara-acara RCTI untuk wilayah Surabaya. Meski tanggal itu ditetapkan sebagai tanggal lahir SCTV, namun baru pada tanggal 1 Januari 1993, SCTV mengudara secara nasional di Jakarta.

Gedung Graha Pena di Jalan Achmad Yani
(kantor utama Jawa Pos Group dan JTV)


> Surabaya merupakan “rumah” bagi JTV (Jawa Pos Televisi), stasiun televisi lokal terbesar di Indonesia, dan TVRI Jatim, stasiun TVRI daerah pertama di Indonesia.



> Gang Dolly adalah lokalisasi terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, mengalahkan Patpong di Thailand dan Geylang di Singapura. Tentu saja ini bukan prestasi yang membanggakan. Pemerintah kota sebenarnya sudah merencanakan penghapusan lokalisasi ini secara bertahap. Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der mart. Keturunan dari Dolly sampai sekarang masih ada di Surabaya meskipun sudah tidak mengelola bisnis. Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat.

Ciputra Wolrd Mall Surabaya


> Surabaya sangat terkenal di kalangan warga Jawa Timur sebagai pusat “wisata mall”. Padahal, mereka hanya kurang mengetahui tentang potensi wisata Surabaya, yang tidak hanya memiliki belasan mall dan pusat perbelanjaan mewah saja.



> Surabaya menjadi tempat berdirinya salah satu dari tiga planetarium yang ada di Indonesia (dua lainnya berada di Jakarta dan Tenggarong, Kalimantan Timur). Planetarium Surabaya terletak dalam kompleks Museum TNI AL Loka Jala Crana yang berada di kawasan Perak. 

Jembatan Suramadu


> Jembatan Suramadu adalah maskot baru Surabaya yang dibangun pada 20 Agustus 2003 dan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Juni 2009. Dengan panjang 5.438 meter, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini (2014) yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Jembatan Suramadu terdiri dari tiga bagian yaitu jalan layang (causeway), jembatan penghubung (approach bridge), dan jembatan utama (main bridge).

Masjid Nasional Al Akbar


> Masjid Nasional Al Akbar merupakan masjid terbesar ke dua di Indonesia setelah Masjid Nasional Istiqlal, serta merupakan salah satu masjid yang mendapat predikat sebagai “masjid nasional”. Masjid Nasional Al Akbar dibangun sejak tanggal 4 Agustus 1995, atas gagasan walikota Surabaya saat itu, Sunarto Sumoprawiro. Pembangunan Masjid ini ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Wakil Presiden Try Sutrisno. Namun karena krisis moneter pembangunannya dihentikan sementara waktu. Tahun 1999, masjid ini dibangun lagi dan selesai tahun 2001. Pada 10 November 2000, masjid ini diresmikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid.



> Surabaya merupakan kota dengan kantor Konsulat Jenderal negara asing terbanyak di Indonesia. Sebagai metropolitan terbesar ke dua, Surabaya menjadi pusat berdiamnya belasan konsulat negara asing yang menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Indonesia. Konsulat-konsulat yang ada di Surabaya antara lain Konsulat Jepang, Cina, Filipina, Jerman, Perancis, Belanda, Amerika Serikat, dan masih banyak lagi.

Pusat bisnis (CBD) Jalan Basuki Rahmat


> Surabaya sempat bersaing dengan Hanoi dalam memperebutkan posisi tuan rumah Asian Games 2018. Dalam voting yang dilakukan Olympic Council of Asia di Macau pada 8 November 2012, Hanoi unggul dengan perolehan suara 29 sementara Surabaya mendapat 14 suara, meskipun pada akhirnya Hanoi mengundurkan diri dan Olympic Council of Asia mendaulat Jakarta dan Palembang sebagai tuan rumah pengganti.



> Surabaya juga pernah meraih penghargaan "kota terbaik partisipasinya se-Asia Pasifik" oleh Citynet atas keberhasilan dan partisipasi warganya dalam mengelola lingkungan.


Infobimo

Dari Berbagai Sumber 



 * * *

Postingan populer dari blog ini

The Liar and His Lover OST Full

Macam Varian Dialek-Dialek Bahasa Jawa

Sejarah Dinasti Joseon

Biografi Sri Susuhunan Pakubuwono X (1866-1939)

Sejarah Tari Remo

Fakta Seputar Sekolah di Korea Selatan

Kompleks Bangunan Keraton Surakarta

Istana-Istana Kerajaan di Indonesia