✳ Selamat Datang ---- Wilujêng Rawúh ---- Welcome ---- Bienvenue ---- Добро ---- Karşılama ---- 欢迎光临 ---- 환영 ---- ようこそ ---- ยินดีต้อนรับ ---- वेलकम ---- أهلا وسهلا ✳

Jumat, Januari 04, 2013

Sejarah Dinasti Joseon


Dinasti Joseon, bagi penggemar drama Korea, pasti nama ini sudah tidak asing lagi. Dalam berbagai serial drama bahkan film layar lebar dengan latar belakang era klasik produksi Korea Selatan, Dinasti Joseon hampir selalu menjadi sumber inspirasi pokok cerita, baik semi-fiksi atau kisah sejarah yang nyata..

Dinasti Joseon, bisa dianggap merupakan dinasti konfusius tertua yang berhasil bertahan sampai saat ini. Pendiri Dinasti Joseon adalah Yi Seong Gye yang diangkat dengan bergelar Raja Taejo. Ia adalah seorang anggota klan Yi (Lee) dari Jeonju yang melakukan kudeta terhadap Raja Woo dari Goryeo. Yi Seong Gye terkenal sebagai ahli militer cerdik dalam memimpin perang terhadap bajak laut Jepang yang mengganggu perairan Korea. Ia memindahkan ibukota dari Gaegyeong (kini Gaeseong) ke Hanseong (kini Seoul) dan mendirikan Istana Gyeongbok tahun 1394. 

.
Istana Gyeongbok, istana utama Kerajaan Joseon.
.
Suksesi secara patrilineal dari Raja Taejo tidak pernah terputus sampai zaman modern. Penguasa terakhir, Sunjong, atau Kaisar Yungheui yang diturunkan secara paksa oleh militer Jepang sebagai kepala negara pada tahun 1910. Sejak saat itu, para keluarga bangsawan Joseon tersebar ke beberapa negara, terutama Brazil dan Jepang. Keluarga Dinasti Joseon, memerintah dalam dua periode negara modern Korea, sejak didirikan sebagai Kerajaan Joseon sampai berubah nama menjadi Kekaisaran Han Raya.
.
Foto masa-masa terakhir keluarga Dinasti Joseon.
Saat foto tersebut diambil Kerajaan Joseon telah
berganti nama menjadi Kekaisaran Han Raya.
.
Setelah diporakporandakan oleh penjajah Jepang, dinasti ini memang dapat dikatakan hampir hancur. Kini, beberapa anggota keluarga yang masih tersisa berusaha merekonstruksi kembali dan menyambung tali sejarah keluarga Joseon agar tidak terputus seiring berjalannya waktu. Walaupun, beberapa intrik perpecahan sempat muncul di kalangan anggota keluarga. 
..
  • Sejarah
..
Selama 518 tahun (1392-1910), Dinasti Joseon adalah salah satu diantara monarki dengan masa terpanjang di dunia. Pendirinya, Yi Seonggye, mengambil gelar sebagai Raja Taejo ("nenek moyang Besar"), memindahkan ibukota ke Hanyang (Seoul). Ini mengakhiri kekuasaan Dinasti Goryeo (keluarga Wang) dan digantikan dengan klan Chonju dari keluarga Yi. Mengacu pada nama keluarga, Dinasti Joseon sering keliru disebut sebagai Dinasti Yi (karena semua raja Joseon bermarga Yi / Lee).
..
Yi Seonggye, bergelar Raja Taejo, pendiri
dan raja pertama Kerajaan Joseon.
..
Selain Buddhisme, Konfusianisme muncul sebagai kekuatan politik dan sosial yang dominan. Hirarki sosial yang ketat dari Konfusianisme menempatkan raja dan keluarganya berada di puncak strata sosial, di bawah itu adalah kelas aristokrat (yangban) yang telah berkembang sejak Dinasti Goryeo. Di bawah lagi ada kelas rakyat biasa (sangmin) seperti petani, pedagang, pekerja, dan nelayan. Di bagian bawah lagi ada kasta orang buangan, termasuk budak yang dipekerjakan dalam pekerjaan yang tidak diinginkan. Kelas sosial menjadi turun-temurun karena pembauran dan pembebasan status hampir mustahil dilakukan. 
.
Peta wilayah kekuasaan Dinasti Joseon
(hingga tahun 1910)
.
Untuk memastikan ruang yang cukup besar bagi orang-orang muda berpendidikan untuk menjadi pejabat pemerintahan, sekolah negeri dan swasta didirikan, dan layanan sipil, militer, dan ujian lainnya yang dilembagakan dibentuk. Dalam tradisi Konfusian, pendidikan merupakan faktor penting, karena melalui itu kita bisa mencapai posisi dan pangkat, lalu akhirnya pengaruh, kekuasaan, dan kekayaan. Sistem yang ketat tersebut tampaknya bekerja dengan baik dalam dua abad pertama dinasti, dan integritas pejabat publik tetap tinggi. Tergerak oleh idealisme, nasionalisme kuat, dan kesejahteraan negara semakin meningkat. Penekanan beasiswa dari negara ditempatkan pada bidang ilmu sosial-kebudayaan, seperti sejarah nasional, risalah ilmiah, teknologi, kedokteran, peningkatan penggunaan pencetakan untuk menyebarkan informasi, dan seni kaligrafi, lukisan, serta porselen. Salah satu prestasi yang paling membanggakan Korea, abjad hangul, diresmikan pada tahun 1446 oleh Raja Sejong.
. 
Raja Sejong, pencipta aksara hangeul dan raja terbesar Kerajaan Joseon.
Gambaran Gerobukseon, yang dipercaya sebagai
kapal perang terkuat pertama di dunia.
.
Dalam masa Invasi Jepang ke Korea (1592-1598), penglima perang Jepang Toyotomi Hideyoshi yang berambisi menguasai Cina, menginvasi Joseon dari tahun 1592-1597. Dengan persenjataan modern dari Portugis, dalam hitungan bulan mereka menduduki semenanjung, Hanseong dan Pyeongyang pun berhasil diduduki. Akibat perpecahan dalam kabinet kerajaan, kurangnya informasi mengenai kemampuan militer musuh dan gagalnya usaha diplomasi menyebabkan buruknya persiapan Joseon. Berdasarkan Babad Dinasti Joseon, serbuan tentara Jepang dibantu oleh budak-budak yang berontak. Mereka membakar dan meruntuhkan Istana Gyeongbok dan perpustakaan catatan budak.
.
Para aristokrat atau pejabat pemerintahan (yangban) pada era Joseon.
.
Perlawanan sengit dari rakyat melemahkan kekuatan musuh dengan kemenangan-kemenangan besar perang naval dalam pimpinan Admiral Yi Sunshin. Admiral Yi mengambil alih kendali di perairan dengan menghabisi kapal-kapal suplai Jepang. Adanya bantuan Ming yang mengirimkan bantuan pasukan dalam jumlah besar tahun 1593 berhasil memukul mundur pasukan Hideyoshi. Joseon mengembangkan armada perang dengan perlengkapan canggih dan kemampuan tinggi seperti armada Geobukseon (Kapal Kura-kura) yang berlapis besi. Namun, kemenangan Joseon dibayar dengan harga yang sangat mahal. Lahan pertanian, saluran irigasi, fasilitas desa dan perkotaan rusak berat. Ratusan ribu penduduk tewas, jutaan lain menderita kerugian materi. Puluhan ribu seniman, pengrajin dan pekerja terbunuh dan diculik ke Jepang guna mengembangkan teknik kerajinan mereka. Para samurai itu juga merampok banyak harta sejarah bernilai Korea, banyak diantaranya disimpan di museum-museum.
 .
Gisaeng, para wanita penghibur istana.
  .
Menyusul berakhirnya invasi Jepang, Joseon mulai mengisolasi diri. Penguasanya membatasi hubungan dengan negara lain. Sementara itu Dinasti Ming mulai melemah, sebagian karena terkurasnya biaya akibat membantu Joseon dalam invasi Jepang dan semakin menguatnya pengaruh Suku Manchu atas Cina (Suku Manchu berhasil membangun Dinasti Qing). Joseon memperketat penjagaan dan kontrol terhadap lalu-lintas perbatasan, serta menunggu berita dari pergolakan di Cina. Joseon menderita 2 kali invasi dari suku Manchu, tahun 1627 dan 1637. Kerajaan  Joseon menyerah dan menjadi negeri protektorat Kekaisaran Qing yang berkewajiban membayar upeti. Pada saat ini Joseon terlibat hubungan dagang dua arah dengan Qing.
.
Suasana kota Seoul pada tahun 1890-an.
.
Adanya Perang Cina-Jepang telah berhasil membuat Dinasti Joseon keluar dari campur tangan asing (Dinasti Qing). Dengan melemahnya Dinasti Qing, Jepang akhirnya menegosiasikan Perjanjian Shimonoseki dengan utusan dari Kekaisaran Qing, dimana Jepang merebut kendali atas Semenanjung Liaodong dari Qing (sebuah langkah yang dirancang untuk mencegah perluasan ke selatan oleh saingan baru Jepang, Kekaisaran Rusia), dan, yang lebih penting lagi yaitu ambisi Jepang menancapkan pengaruh atas Korea.
.
Prosesi iring-iringan pemakaman Ratu Min pada tahun 1895 di Seoul.
.
Pada abad ke 19, setelah pembunuhan Ratu Min oleh Jepang, Raja Gojong dan Putra Mahkota (kemudian menjadi Kaisar Yunghui) mengungsi ke kedutaan besar Rusia pada tahun 1896. 
 .
Pada tahun 1897, Raja Gojong, akibat dari meningkatnya tekanan dari dalam dan luar negeri mengenai tuntutan Kemerdekaan Korea yang dipimpin opini publik, ia kembali ke Istana Gyeongun (sekarang Istana Deoksu). Di sana, ia memproklamasikan berdirinya Kekaisaran Korea (Kekaisaran Han Raya), dan menyatakan era baru dengan nama "Gwangmu".
 .

Raja Gojong (Kaisar Gwangmu), raja terakhir Kerajaan Joseon
sekaligus pendiri Kekaisaran Han Raya (Kekaisaran Daehan).
 .
Raja Gojong merubah gelarnya menjadi Kaisar Gwangmu, kepala negara Joseon pertama yang berdaulat penuh dan turun-temurun dari Kekaisaran Korea. Ini menandai akhir lengkap tatanan dunia lama dan sistem ketergantungan tradisional Joseon terhadap Qing. Bertahun-tahun sebelumnya, Joseon selalu bergantung pada Qing dan dikenakan kewajiban mengirim upeti kepada Kaisar Qing. Status baru Korea sebagai sebuah kekaisaran berarti "benar-benar merdeka dan mandiri dari pengaruh Qing".
..
Nama "Kekaisaran Han Raya" dipilih untuk menunjukkan kebangkitan Konfederasi Samhan dari Proto-Tiga Kerajaan Korea. Arti penting dari deklarasi kekaisaran yaitu untuk menyatakan kemerdekaan Korea dan kesetaraan negara baru Korea dengan Cina dan Jepang.
 .
Sebuah foto pernikahan Yi Woo, putra Kaisar Yunghui, kaisar terakhir
dari Kekaisaran Han Raya, dengan istrinya Park Chanjoo,
putri
seorang politisi berpengaruh, Park Younghye.
.
Dengan berakhirnya Perang Rusia-Jepang 1904-1905 dalam kesepakatan dalam Perjanjian Portsmouth, jalan Jepang ke Korea semakin terbuka. Setelah menandatangani Perjanjian Portektorat tahun 1905, Korea menjadi protektorat Jepang dengan gubernur jenderal pertama adalah Ito Hirobumi. Hirobumi tewas tahun 1909 di Harbin setelah dibunuh nasionalis Korea, Ahn Junggeun. Peristiwa ini menyebabkan Jepang menjajah Korea tahun 1910.
.
Potret keluarga sastrawati Korea di era akhir masa pemerintahan Joseon.
.
Setelah melakukan invasi dan aneksasi secara de facto tahun 1910, para Pangeran dan Putri Kekaisaran Joseon dipaksa meninggalkan Korea ke Jepang guna menikah atau belajar. Pewaris Tahta Kekaisaran, Putra Mahkota Uimin, menikah dengan Putri Yi Bang-ja (d/h Nashimoto), dan memiliki 2 putra, Pangeran Yi Jin dan Yi Gu. Kakak Uimin, Pangeran Ui memiliki 12 orang putra dan 9 putri dari berbagai istri dan selir. Putra Mahkota Uimin kehilangan statusnya di Jepang saat berakhirnya Perang Dunia II dan kembali ke Korea tahun 1963 setelah diundang Pemerintah Korea Selatan. Ia menderita struk saat pesawatnya mendarat di Seoul dan dibawa ke rumah sakit. Ia tidak pernah sembuh dan meninggal tahun 1970. Kakaknya, Pangeran Ui meninggal tahun 1955.
..
Iring-iringan upacara pemakaman Kisar Yunghui (Sunjong) pada tahun 1926
.
Memang tidak dapat dipungkiri, kehancuran dinasti ini benar-benar disebabkan oleh kebiadaban Jepang kala itu. Jepang tak hanya menjajah Korea secara politik, tetapi juga menginvasi Korea secara bahasa dan budaya. Rakyat dilarang menggunakan bahasa mereka sendiri, harus mengikuti kebiasaan orang-orang Jepang, bahkan memeluk shinto sekalipun. Para bangsawan diasingkan, dipecah-belah, menyebabkan diaspora besar-besaran para anggota keluarga Joseon ke luar negeri, terutama Jepang. Tak heran, jika sampai jaman moderen seperti ini, masih banyak rakyat Korea yang amat sangat membenci Jepang. Kini, Joseon sebagai peletak dasar-dasar kebudayaan Korea moderen, hanya terlihat begitu indah hidup dalam berbagai cerita drama kolosal dan berbagai peninggalan-peninggalan masa lalunya.
.
Saat ini (2013) ada tiga orang yang oleh asosiasi keluarga kerajaan didaulat sebagai pewaris tertinggi tahta mahkota Dinasti Joseon. Ketiga orang itu adalah :

1. Maharani Yi Haewon (이해원)


Putri Yi Haewŏn dari Korea (lahir 24 April, 1919), merupakan keturunan Wangsa Yi. Merupakan satu dari dua pewaris tahta Korea. Ia merupakan putri kedua Pangeran Imperial Ui, Korea, putra kelima Kaisar Gojong dengan selirnya, Nyonya Sudeokdang. Puteri Yi Haewŏn sekarang merupakan pewaris yang diperdebatkan mendapatkan posisi kepala Istana Kerajaan Korea dengan keponakannya Pangeran Pewaris Imperial Won. Ia adalah putri tertua Pangeran Imperial Ui yang masih hidup sampai sekarang.

Haewŏn dilahirkan di Istana Sadong yang merupakan tempat tinggal resmi kemuarganya di Seoul dan dibesarkan di Istana Unhyeon. Ia lulusan dari Sekolah Tinggi Kyunggi di tahun 1936 dan kemudina menikah dengan Lee Seunggyu, yang diculik secara wajib ke Korea Utara pada saat Perang Korea, memiliki keturunan, tiga putra dan satu putri.

Hanya sebagai gelar memerintah sejak kematian pendahulunya Gu, Pangeran Kekaisaran Hoeun pada tanggal 16 Juli 2005, Puteri Haewŏn dimahkotai sebagai suatu simbolik monarki Korea pada tanggal 29 September 2006 oleh Asosiasi Keluarga Imperial Korea, yang diorganisasi oleh sekitar selusin keturunan dari Dinasti Joseon. Ia menuntut gelar Ratu (Maharani) Korea dan mengumumkan restorasi Istana Imperial pada saat upacara kenaikan tahtanya sendiri.

2. Pangeran Imperial Yi Won (이원)


Won, Pangeran Pewaris Imperial Korea (lahir tahun 1962), merupakan keturunan Dinasti Joseon (a.k.a. Wangsa Yi) merupakan Kepala kontestan Keluarga Imperial Korea dan juga bekerja sebagai seorang jenderal manajer Hyundai Home Shopping, sebuah kantor cabang Hyundai chaebol. Ia dilahirkan sebagai putra tertua Pangeran Gap dari Korea, putra ke-9 Pangeran Gang dengan istrinya Hyehwa-dong, Jongno-gu, Seoul dan menjadi anak adopsi Pangeran Gu dari Korea, kepala ke-29 istana Imperial, meskipun kesahan adopsi diperdebatkan.

Mereka yang menyangkal legitimasi adopsi mencatat bahwa persetujuan untuk mengadopsi oleh Pangeran Won tidak diterima anggota lain dari istana Imperial, termasuk Pangeran Seok, adik tiri Pangeran Gap, dan Puteri Hae-won, anggota tertua yang masih hidup di dalam istana. Juga, menurut hukum Korea yang sekarang, adopsi tradisional setelah kematian dari orangtua angkat untuk meneruskan garis keturunan tidak sah oleh legislasi pada tahun 2004.

Masalah lain meningkat atas bila Pangeran Won atau ayahnya Pangeran Gap merupakan anggota senior di dalam istana tersebut. Sewaktu garis keturunan Pangeran Gang merupakan garis keturunan senior diikuti dengan kematian Pangeran Gu, ada terdapat keturunan dari putra-putra Pangeran Gang yang lebih tua. Kecuali keturunan Pangeran Geon, putra tertua yang telah dinaturalisasi sebagai bangsa Jepang setelah Perang Dunia II, beberapa anggota Istana mendesak bahwa Kepemimpinan Istana harus diturunkan kepada keturunan Pangeran Wu, putra kedua Pangeran Gang. Dalam hal ini, orang yang berhak sebagai Kepala wangsa tersebut adalah Yi Chung, putra tertua Pangeran Wu.

Pada tanggal 16 Juli 2005, diikuti oleh kematian Pangeran Gu, beberapa anggota Dewan Keluarga Yi (Lee) memilihnya sebagai Kepala Imperial Istana Korea yang berikutnya dan mereka juga memberinya gelar Pangeran Pewaris Imperial (Hwangsason) dengan arti mewarisi gelar Pangeran Gu. Tuntutannya diperdebatkan oleh Yi Haewon yang dimahkotai sebagai Ratu Korea Selatan oleh 12 keturunan yang merasa bahwa ialah yang pantas menjadi Ratu, dan bukan Pangeran Won. Ia sekarang tinggal di sebuah apartemen di Wondang, Goyang, Provinsi Gyeonggi, Korea dengan keluarganya.

3. Pangeran Yi Seok (이석)


Yi Seok (lahir 1941) adalah seorang pangeran dari Keluarga Yi, keluarga kerajaan Korea. Dia digambarkan sebagai "kaisar boneka" tahta Korea oleh The New York Times, walaupun status ini tidak diakui oleh keluarga Asosiasi Yi. Yi Seok terkenal sebagai sebagai "pangeran bernyanyi". Sejak tahun 2004, ia telah didaulat oleh Pemerintah Kota Jeonju untuk mempromosikan pariwisata dan kebudayaan tradisional Korea. Ia juga seorang profesor sejarah di Universitas Jeonju. Dia adalah putra dari Pangeran Yi Kang, putra kelima dari Kaisar Gojong dari Korea.

Setelah PD II berakhir dengan pendudukan dan partisi Korea oleh sekutu di Selatan, dan Rusia dan Cina di utara, keluarga Kekaisaran Korea menjadi tunawisma, apa aset yang tidak disita oleh Jepang kemudian disita oleh pemerintahan Presiden Syngman Rhee. Ketika  Perang Korea meletus  pada musim panas tahun 1950 keluarga Kekaisaran melarikan diri dari  kapal pendarat Amerika dari Incheon, di sepanjang pantai ke Busan, ia kemudian tinggal di sebuah biara di lereng bukit di Pulau Jeju sampai perang berakhir pada musim gugur tahun 1953. Ketika ia kembali ke Korea, Yi Seok sebagai seorang pemuda diminta untuk merawat keluarganya. Ia sebisanya, bersama dengan saudara-saudaranya, mengambil setiap pekerjaan yang ia bisa untuk membantu orangtua dan saudaranya sambil belajar di universitas selama masa sulit Perang Korea.
..
Di Hankook University of Foreign Studies di Seoul, Yi Seok mempelajari bahasa asing, terutama Spanyol, serta hubungan luar negeri dan sejarah, ia  menjadi fasih dalam beberapa bahasa, dan mempersiapkan diri untuk layanan diplomatik. 

Dan tidak lama kemudian, Yi Seok bisa menghidupi diri, meniti karir sukses sebagai penyanyi, termasuk penghibur pasukan Amerika di pangkalan militer, dan karena itu mereka memanggilnya, “pangeran yang suka bernyanyi”. Disini ia menjadi pasukan sukarela dan terdaftar dalam divisi Tiger. Divisi Tiger adalah Divisi yang terdiri dri para sukarelawan imana prajuritnya menyumbangkan 80% dari gaji mereka untuk pemerintahan Korea Se;atan untuk mendukung ekonomi negara pasca perang. Ketika ia bertugas di infanteri 1 Divisi tiger ia mengalami luka serius akibat pecahan peluru. Ia juga berpartisipasi dalam operasi Tiger 1 dan Tiger 12.
 .
Kembali ke Republik Korea, keluarga Kekaisaran kembali diberikan akomodasi di istana di Seoul, tetapi  perlakuan istimewa ini berkahir, saat diktaktor militer berkuasa di Korea pada akhir 1970 yakni kudeta setelah pembunuhan Presiden Park Chung Hee pada tahun 1979, Mereka mengusir keluarga kerajaan dari istana, mencabut status, harta dan gelar mereka. Ibunya sampai membuat gerobak mie dan sebuah bar untuk kehidupan sehari-hari. Sehingga pada tahun 1980, Ia kemudian mencoba keberuntungannya di Amerika Serikat.
 .
Pengakuan Pangeran Yi Seok ...
 .
(Sumber >> http://inisajamostory.blogspot.com/)
.
.
“Saat saya baru tiba, saya bekerja 16 jam sehari sebagai pekerja kasar karena saya pendatang ilegal. Saya bekerja dengan orang-orang Meksiko dan menerima uang tunai. Lalu pada tahun 1986, saya dapat kewarganegaraan Amerika. Saya bayar 15 ribu dolar ke seorang perempuan untuk kawin kontrak. Saya bekerja di toko minuman keras miliknya di suatu lingkungan keras di Los Angeles dan pernah dirampok 13 kali. Setiap pagi saya merasa gelisah, takut dirampok lagi,”
 .
Yi Seok tinggal 10 tahun di Amerika dan bekerja di semua tempat termasuk membersihkan kolam di kawasan elit Bevery Hills. Hidupnya jauh dari istimewa dan kenyamanan yang pernah ia rasakan.
 .
Pada tahun 1989 Yi Seok kembali ke Korea Selatan, tapi tetap mengalami kesulitan keuangan. Ia tinggal di biara beberapa tahun, berniat jadi biksu. Tapi tidak cocok dengan hidupnya. Dia sering minum minuman keras dan keluar sampai larut malam. Waktu ia pulang pintu biara sudah tertutup. Dalam keputusasaan, ia sering memikirkan untuk bunuh diri.
.
“Saya mencoba bunuh diri delapan kali. Yang terakhir 1999, saya menabrakkan mobil saya ke gerbang istana. Saya menulis surat wasiat di WC umum. Seorang pemuda yang berada dekat saya membukanya. Ia membacanya dan mengatakan, “Paduka Anda harus beritahu orang mengenai hal ini!” Saya menjawab,”Ini memalukan, lebih baik saya mati sendirian,”
 .
Tapi pertemuan dengan pemuda itu mejadi titik balik. Nasib Yi Seok berubah setelah kisahnya dimuat dalam surat kabar nasional. Laporan tersebut menceritakan seorang keturunan anggota kerajaan Dinasti Joseon ditemukan menggelandang, tidur di WC umum.
 .
Dengan berubahnya  iklim politik  di awal 1990-an, Yi Seok bisa kembali ke Republik Korea, dan sekali lagi berusaha untuk hidup dalam sifat keluarga tua, dan berjuang untuk hak-hak hukum sebagai warga negara pribadi. Setelah serangkaian masa sulit, ia memiliki serangkaian perjalanan, pensiun ke biara, dan baru kembali kehidupan publik  pada awal abad ke-21, dengan serangkaian perjalanan konstan melakukan pekerjaan pendidikan, mempromosikan baik wisata Korea Imperial dan restorasi bangunan bersejarah, dan jadwal yang melibatkan lebih dari 100 ceramah atau penampilan publik setiap tahun. Saat ini ia tinggal di Jeonju, Korea Selatan. Kesulitan dan ketahanan yang khas kehidupan Korea Yi Seok selama  PD II  dibuat menjadi program semi-fiksi TV dramatis pada Korea Broadcasting System (KBS).
.
Pada bulan Oktober 2004, Yi Seok kembali ke kota kerajaan Jeonju atas undangan walikota, untuk membawa mengembalikan keunggulan budaya di Korea. Pada bulan Februari 2005, Yi Seok mulai mengajar dua kali kelas mingguan tentang sejarah Korea di Jeonju University dengan gelar profesor. Kelasnya berpusat pada tokoh-tokoh zaman Dinasti Joseon serta memperkenalkan sejarah Korea  pra-1900  untuk siswa tahun kedua.
.
Sepanjang 2006, Yi Seok telah melakukan kunjungan resmi ke luar negeri untuk memberikan beberapa ceramah tentang  budaya tradisional Korea antara lain  kunjungan ke Amerika Serikat (Los Angeles, dan Washington), Mexico City, Meksiko, dan ke Frankfurt, Jerman untuk sebuah pameran perdagangan Korea. Pada bulan September 2006, Yi Seok bepergian sebagai seorang profesor dengan sesama akademisi dan mahasiswa ke Jepang. Yi Seok juga baru-baru ini menerbitkan sebuah buku tentang ritus seremonial keluarganya. Dia telah setuju untuk menjadi tuan rumah sebuah serial TV, yang saat ini dalam pra-produksi, pada sejarah kerajaan Korea. Berjudul "A Personal View of Korea", seri dokumenter ini akan menampilkan tiga episode di sejarah Korea, istana dan kuil-kuil, serta 20 arsitektur benteng istana  Dinasti Joseon.
 .
 .
Baru-baru ini kota Jeonju, tempat kelahiran para anggota keluarga kerajaan, membangun rumah untuknya dan menjadikannya sebagai identitas dan maskot kota Jeonju, selain sebagai daya tarik pariwisata. Pemerintah kota berharap mendapat keuntungan dari deaskan publik yang tertarik dengan sejarah keluarga kerajaan. Walaupun sebelumnya beberapa warga sempat tidak mempedulikan hal ini.
 .
Ketertarikan masyarakat dengan Kerajaan Korea mungkin sebuah tanda, negara ini siap memaafkan dan melupakan kekurangan beberapa bangsawan kerajaan terdahulu. Tapi Yi Seok ingin dapat lebih dari sekedar permintaan maaf. Ambisinya besar untuk melihat kembalinya monarki, paling tidak kebiasaan upacara keluarga kerajaan. Tapi apa masyarakat siap untuk menerima kembalinya sistem monarki ?
 .
"Saya berada di upacara penghargaan dan Yi Seok diundang sebagai tamu terhormat. Dan saya akan berbicara kepada beberapa orang, untuk mencari tahu pendapat mereka tentang anggota keluarga kerajaan. Saya mencoba dekati beberapa tamu dengan foto Yi Seok di tangan saya dan menanyakan pertanyaan yang sama kepada setiap orang. 'Anda kenal dengan orang ini ?' Ujarnya,"
.
Orang ini tidak tahu identitas laki-laki yang ada di foto. Tapi akhirnya ia mengatakan itu orang yang pernah menyanyikan “Nest of Doves”. Perempuan lainnya juga kesulita mengenali Yi Seok. Tapi saat saya menjelaskan ia adalah keturunan kerajaan, perempuan itu mengaku mengenalinya. Namun merasa enggan untuk kembali kepada sistem kerajaan. Bukan hal yang gampang untuk dikembalikan katanya. Laki-laki berikutnya berhasil mengenali Yi Seok. Saat oa menanyakan pendapatnya tentang kerajaan Korea, ia mengakui menyesali datangnya pengaruh Konfusianisme yang dianut anggota kerajaan Korea. Tapi tetap ia tidak mau kembali pada sistem monarki. “Oh tidak,” Ia mengatakan, "Negara ini sudah cukup demokratis. Itu ide yang menggelikan."
 .
Tampaknya, jalan masih panjang untuk Yi Seok sebelum ia meraih ambisinya melihat kembalinya monarki Joseon di Korea. Tetapi ia tetap bertekad.
.
.
* * *
.
.
Potret keluarga Dinasti Joseon semasa Kekaisaran Han Raya
(Dari kiri : Putra Mahkota Yeongchin, Kaisar Yunghui (Sunjong),
Raja Gojong, Maharani Sunjeong, dan Putri Deokhye)
 
Seperti yang diketahui, pada abad ke-19, Korea tetap menjadi "Kerajaan Pertapa", gigih menentang tuntutan Barat untuk membuka hubungan diplomatik dan perdagangan. Seiring waktu, beberapa negara Asia dan Eropa dengan ambisi imperialistiknya bersaing satu sama lain untuk berebut pengaruh atas Semenanjung Korea. Jepang, setelah memenangkan perang melawan Qing (Cina) dan Rusia, secara paksa menganeksasi Kekaisaran Korea dan melembagakan pemerintahan kolonial secara permanen pada tahun 1910, yang secara praktis mengakhiri kekuasaan Dinasti Joseon atas Semenanjung Korea.

Suasana Namdaemun di awal abad ke 20.

Proses kolonisasi Jepang membangkitkan rasa patriotisme orang Korea. Kaum cendekiawan dan intelektual Korea merasa marah dengan kebijakan asimilasi budaya Jepang, yang bahkan melarang pendidikan Bahasa Korea di sekolah-sekolah - menggantinya dengan pelarajan Bahasa Jepang. Pada tanggal 1 Maret 1919, demonstrasi damai menuntut kemerdekaan menyebar secara nasional. Pihak berwenang Jepang dengan kejam menekan para demonstran dan pendukung mereka, mereka membantai ribuan orang yang terlibat dalam aksi-aksi tersebut.

Kim Gu, Presiden Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai (kiri).
Pejabat tinggi dari Pemerintah
Sementara Korea di Shanghai berpose
untuk
foto peringatan kebangkitan nasionalisme Korea di tahun 1945 (kanan).

Meskipun gagal, Gerakan Kemerdekaan 1 Maret menciptakan ikatan yang kuat sebagai identitas nasional dan patriotisme di kalangan warga Korea. Gerakan ini menyebabkan pembentukan Pemerintahan Sementara Korea di Shanghai, Cina, serta perjuangan bersenjata terorganisir melawan penjajah Jepang di Manchuria. Gerakan Kemerdekaan diperingati di Korea setiap 1 Maret.
 
Seolleung, makam Raja Seongjong di Seoul.
 



Dari berbagai sumber ..... 

2 Komentar:

Bagus haynsworth mengatakan...

Sejarah mengenai Dinasti Joseon sangat bermanfaat dan menjadi ilmu pengetahuan untuk saya,Terima kasih atas kutipan sejarahnya,saya dapat memetik sejarah singkat Dinasti Joseon.Kamsahamnida.Kibuni Chosseumnida.

Bimo Kusumo Aji mengatakan...

@bagus : Cheonmaneyo mas bagus, semoga bermanfaat ...

Poskan Komentar

SRISUDEWA. Diberdayakan oleh Blogger.