Taman Kerajaan Terindah Di Indonesia

o
Saatnya keliling Nusantara ...

Berbicara soal kebudayaan klasik Indonesia, yang dulunya merupakan terdiri dari berbagai kerajaan-kerajaan serta memiliki identitas suku dan budaya serta agama masing-masing, tak lepas dari peran istana kerajaan selain sebagai pusat politik dan tempat tinggal dinasti yang memerintah, juga sebagai pusat pengembangan budaya. Keeksotisan istana-istana itu pun, beberapa masih berfungsi sebagaimana mestinya dan dapat disaksikan sampai saat ini.

Para raja-raja zaman dahulu, seusai membangun istana, biasanya istana tersebut akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, walau letaknya cukup jauh dari istana, namun masih dijadikan bangunan yang terkait dengan istana. Salah satunya adalah taman sari, atau taman pemandian istana, atau dalam budaya Jawa lebih dikenal dengan sebutan keputren (ke-putri-an).

Berbagai taman yang indah dan eksotis, dibangun khusus bagi keluarga raja, terutama kalangan putri-putri bangsawan. Dimana sajakah kita dapat menyaksikan taman-taman kerajaan yang eksotis itu ? Mari, siapkan diri anda seolah raja atau permaisuri kerajaan, dan menikmati setiap sudut keindahan taman-taman kerajaan ini ...

1). Taman Sari Gunongan, Kota Banda Aceh.


Bangunan ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda untuk permaisurinya yang bernama Putri Phang (Putroe Phang) yang berasal dari Negeri Pahang, Malaysia.

Konon ceritanya, sang putri merasa kesepian dan rindu akan kampung halamannya. Atas kecintaan Sulatan terhadap permaisuri, maka Sultan Iskandar Muda membangun sebuah bangunan miniatur yang menyerupai kampung halaman sang permaisuri yang diberinama Gunongan. Bangunan Gunongan berdiri dengan tinggi 9,5 meter, yang menggambarkan sebuah bunga, yang dibangun dalam tiga tingkat. Tingkat pertama terletak di atas tanah dan tingkat tertinggi berhias mahkota dengan sebuah tiang berdiri di pusatnya. 


Jika dipandang secara keseluruhan, bentuk Gunongan adalah octagonal (bersegi). Serambi selatan merupakan lorong masuk yang pendek, tertutup pintu gerbang yang penyangganya sampai ke dalam gunung. Batu berukir kembang lela masyhadi yang terletak bersebelahan dengan gunongan dan berada di sisi sungai yang melambangkan bunga khas tempat negeri permaisuri tinggal.

Lokasi Gunongan berada di Taman Sari Gunongan, di Desa Seutui, Kotamadya Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Karena Desa Seutui berada di tengah kota Banda Aceh, maka tempat ini sangatlah strategis dan patut anda kunjungi bila anda berkunjung ke Nanggroe Aceh Darussalam.
.
2). Taman Sri Seli, Kota Medan.

.  ffssfg .
.
Taman Sri Deli adalah sebuah taman di kota Medan. Letaknya di Jalan Masjid Raya, di kawasan bersejarah dimana juga terdapat Istana Maimun dan Masjid Raya Al Mahsun. Taman Sri Deli dibangun sebagai tempat bersantai Sultan Deli dan keluarganya serta tempat pemandian bagi putri-putri Sultan di masa Hindia Belanda. Saat itu namanya "Delikanpark". 
.
.
Taman yang berada dekat Garuda Citra Hotel ini sering dimanfaatkan oleh pedagang untuk berjualan. Menjelang bulan ramadhan, Taman Sri Deli akan ramai karena akan ada banyak pedagang dan pengunjung yang mampir disana. Dari pusat kota Medan, taman ini berjarak sekitar 3 kilometer. Masyarakat setempat sering memanfaatkan taman ini sebagai sarana olahraga seperti jogging, bersepeda, skate boarding, badminton, futsal, perkumpulan, ataupun berekreasi. 
.
Taman ini biasanya ramai pada akhir pekan dan hari libur, seperti hari minggu, dan libur peringatan hari-hari besar lainnya. Di taman ini juga sering diadakan pengajian akbar, zikir akbar, dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh-tokoh masyarakat. Taman Sri Deli memang menarik dengan segala pesona pemandangan yang ditawarkan. 
.
3). Taman Sari Sunyaragi (Gua Sunyaragi), Kota Cirebon.



Gua Sunyaragi adalah sebuah gua yang berlokasi di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air Sunyaragi, atau sering disebut sebgaai Tamansari Sunyaragi. Nama "Sunyaragi" berasal dari kata "sunya" yang artinya adalah sepi dan "ragi" yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sanskerta. Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari Keraton Pakungwati, sekarang bernama Keraton Kasepuhan Cirebon.

Sebagai peninggalan keraton yang dipimpin oleh Sultan yang beragama Islam, gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. Misalnya, relung-relung pada dinding beberapa bangunan, tanda-tanda kiblat pada tiap-tiap pasalatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Ka'bah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal tersebut menjelaskan bahwa gaya arsitektur Gua Sunyaragi juga mendapat pengaruh dari Timur Tengah atau Islam.

 
Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984. Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharan yang serius pada kompleks ini.

Bangunan tua ini hingga kini masih ramai dikunjungi orang, karena letaknya persis di tepi jalan utama. Tempat parkir lumayan luas, taman bagian depan mendapat sentuhan baru untuk istirahat para wisatawan. Terdapat juga panggung budaya yang digunakan untuk pementasan kesenian Cirebon.

4). Taman Sari Keraton Ngayogyakarta, Kota Yogyakarta.

 

Pesanggrahan Taman Sari yang kemudian lebih dikenal dengan nama Istana Air Taman Sari yang terletak di sebelah barat Keraton Yogyakarta dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II. Pesanggrahan Taman Sari dibangun setelah Perjanjian Giyanti (1755), yakni setelah Sultan Hamengku Buwana sekian lama terlibat dalam persengketaan dan peperangan. Bangunan tersebut dimaksudkan sebagai bangunan yang dapat dipergunakan untuk meneteramkan hati, istirahat, dan berekreasi.

Taman Sari ini juga dipersiapkan sebagai sarana/benteng untuk menghadapi situasi bahaya. Di samping itu, bangunan ini juga digunakan untuk sarana ibadah. Oleh karenanya Peanggrahan Taman Sari juga dilengkapi dengan mushola, tepatnya di bangunan Sumur Gumuling.


Nama Taman Sari terdiri atas dua kata, yakni taman ‘kebun yang ditanami bunga-bungaan’ dan sari ‘indah, bunga’. Dengan demikian, nama Taman Sari dimaksudkan sebagai nama suatu kompleks taman yang benar-benar indah atau asri.

Lokasi Pesanggrahan Taman Sari sebagai suatu tempat pemandian sudah dikenal jauh sebelumnya. Pada masa pemerintahan Panembahan Senapati lokasi Taman Sari yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama Umbul (mata air) Pacethokan. Umbul ini dulu terkenal dengan debit airnya yang besar dan jernih. Pacethokan ini menjadi salah satu pertimbangan penting bagi penentuan letak calon Keraton Yogyakarta.

5). Taman Balekambang, Kota Surakarta.


Taman Balekambang dibangun pada tahun 1921 oleh penguasa Praja Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara VII, yang didedikasikan untuk putri kembar beliau, Partini dan Partinah. Beliau membangun Taman Balekambang dengan memadukan konsep Jawa dan Eropa. Dinamakan Balekambang, karena di taman tersebut terdapat sebuah kolam ikan dan kolam renang yang di tengahnya terdapat rumah istirahat yang nyaman, dan dikelilingi kebun bunga yang sangat indah. Dulu Balekambang sering digunakan sebagai tempat bersantai/rekreasi khusus keluarga dan kerabat istana Mangkunegaran, baru pada era KGPAA Mangkunegara VIII Taman Balekambang di buka untuk umum. Pada era tahun 70 an masuk pula hiburan Srimulat yang menelorkan beberapa seniman-seniman terkenal seperti Timbul, Gepeng, Djujuk, Nunung, Mamik, Basuki, dll.


Setelah Taman Balekambang di revitalisasi pada tahun 2008 oleh Pemkot Surakarta, disamping fungsi utamanya sebagai daerah resapan dan paru-paru kota juga diperuntukan sebagai public area atau ruang publik yang dapat difungsikan sebagai Taman Seni & Budaya, Taman Botani, Taman Edukasi dan Taman Rekreasi.

Area Taman Balekambang seluas 9,8 Ha yang terletak di Jl. Balekambang No. 1 Surakarta dibuka untuk umum mulai pukul 07.00 – 18.00 WIB setiap hari. Pengunjung dapat menyusuri jalan-jalan setapak dibawah rindangnya dan semilirnya pepohonan untuk mengeliling taman, dan setalah capek berkeliling bisa duduk-duduk dikursi taman yang di desain unik sambil menikmati kicauan burung, canda beberapa ekor rusa yang jinak dan angsa putih layaknya yang dialami keluarga kerajaan Praja Mangkunegaran dulu. Di area taman juga terdapat mobil pintar yang menyediakan buku-buku bacaan, serta mobil mainan yang dapat disewa.

6). Taman Sare Keraton Sumenep, Kota, Kabupaten Sumenep.


Berlokasi satu kawasan dalam lingkungan Keraton Sumenep, Kota Sumenep. Sekarang kita akan menelusuri objek wisata eksotis yaitu Taman Sare. Taman sare ini juga didirikan oleh Panemban Sumolo. Taman sare ini digunakan sebagai tempat pemandian para puteri keraton, termasuk juga puteri yang dikenal dengan sebutan potre koning, sebenarnya nama aslinya itu R.A Sarini. Taman Sare ini didirikan pada tahun 1762, sama seperti tahun pendirian Labang Mesem.

Taman Sare dalam bahasa Indonesia berarti 'taman yang indah'. Di taman ini terdapat kolam pemandian keluarga raja, yang dindingnya didominasi warna biru.


Banyak orang yang percaya jika kita mencuci muka dengan menggunakan air di Taman itu akan memberikan beberapa khasiat. Taman sare ini memiliki tiga pintu masuk menuju kolamnya; Pintu I dipercaya dapat membuat awet muda, dipermudah mendapatkan jodoh dan keturunan. Pintu II dipercaya bisa mendapat karir dan kepangkatan. Pintu III dipercaya untuk meningkatkan iman dan taqwa.

7). Taman Ayun, Mengwi, Kabupaten Badung.


Pura Taman Ayun di Kabupaten Badung, Bali, dibangun pada tahun 1634 M oleh raja pertama Kerajaan Mengwi, I Gusti Agung Ngurah Made Agung yang bergelar Ida Cokorda Sakti Belambangan. Kerajaan Mengwi merupakan salah satu kerajaan kuat di Bali yang bertahan hingga tahun 1891. Pura ini dibangun sebagai tempat beribadah keluarga raja dan para pengikutnya. Berbeda dengan pura-pura lainnya di Bali yang ‘berkiblat‘ pada Gunung Agung, Pura Taman Ayun ‘berkiblat‘ ke Gunung Batukau.

Taman Ayun dalam bahasa Bali berarti ‘taman yang cantik‘. Komplek bangunan religius ini berada dalam lahan seluas 4 hektar dengan dikelilingi kolam atau parit. Dari kejauhan, parit tersebut menyerupai ‘gelang air‘ dan memberikan kesan bahwa pura ini berada di atas permukaan air. Di sekeliling pura, terdapat rerimbunan pohon dan bunga-bunga yang menambah elok suasana. Memang, selain sebagai pura kerajaan, tempat ini juga dikhususkan sebagai taman istana.


Komplek Pura Taman Ayun terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah ruang terbuka yang digunakan untuk berbagai kegiatan religius dan panggung kesenian. Pada bagian pertama ini pengunjung dapat menikmati indahnya susunan meru, yaitu pagoda dengan atap bertingkat-tingkat khas bangunan pura di Bali. Bagian kedua adalah bangunan utama, yaitu sebuah gedung bernama Bale Pelik. Gedung Bale Pelik dihiasi oleh seni ukir, relief, serta patung Dewa Nawa Sanga yang sangat menawan. Sedangkan bagian lainnya merupakan bangunan-bangunan yang diperuntukkan bagi dewa dan dewi yang disakralkan dalam agama Hindu. Setiap hari, pura yang sempat dipugar pada tahun 1937 ini dikunjungi oleh sekitar 300—600 wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri.

Pura Taman Ayun telah diusulkan oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu situs warisan budaya dunia (world heritage). Pada 12 Maret 2008 lalu, Dirjen UNESCO Kokhiro Matsuura telah berkunjung ke Pura Taman Ayun untuk menilai kelayakannya. Pura ini dianggap memiliki nilai sejarah, budaya, religi, dan memiliki cita rasa seni yang tinggi. Pengunjung juga dapat melihat-lihat peninggalan Kerajaan Mengwi yang berada sekitar 300 meter dari pura ini. Di seberang pura juga terdapat Museum Manusa Yadnya, yaitu museum yang memamerkan upacara-upacara yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia mulai dari ketika berada di dalam kandungan sampai meninggal.
8). Taman Gili (Kerta Gosa), Semarapura, Kabupaten Klungkung.


Objek wisata Kerta Gosa dan Taman Gili (Balai Kambang) merupakan bagian dari Puri Semarapura, Kerajaan Klungkung, yang dibangun pada abad 17. Di sebelah barat bangunan ini terdapat sebuah pintu gerbang yang dikenal dengan nama Pemedal Agung adalah merupakan pintu gerbang utama Puri Semarapura tersebut. Ketiga bangunan bersejarah ini berada dalam satu areal yang terletak dijantung kota Semarapura kurang lebih 40 km sebelah timur kota Denpasar, dilalui oleh jalur lalu lintas perjalanan menuju Besakih, Goa Lawah, Candi Dasa dan dari objek wisata Kertha Gosa/Taman Gili dapat dilanjutkan ke Desa Kamasan yang terletak 2 km kearah selatan sebuah desa yang terkenal dengan kerajinan perak, ukiran klongsong peluru, emas dan lukisan wayang tradisional.


Daya tarik ketiga bangunan ini adalah karena sebagai peninggalan bersejarah dari kerajaan Klungkung dengan ornamen ukiran-ukirannya yang indah mengagumkan. Selain itu pada bangunan Kertha Gosa dan Taman Gili, pada langit-langit atapnya dihiasi lukisan tradisional Kamasan yang amat artistik, menggambarkan filosofi kebudayaan Hindu. Disamping itu pula Taman Gili / Balai Kambang sebagai satu bangunan berarsitektur tradisional Bali didirikan diatas alas kura-kura raksasa disebelah timurnya, diatas tembok kolam yang mengelilinginya berderet patung-patung para dewa disatu pihak dan para raksasa di pihak lain, masing-masing kelompok berusaha mendapatkan Amertha Penyubur Kehidupan.

9). Taman Tirta Gangga, Abang, Kabupaten Karangasem.


Taman Tirta Gangga dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Karangasem, Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Sebelum taman ini dibangun, di areal taman itu terdapat mata air yang besar, sehingga penduduk disekitarnya menyebut tempat itu ‘EMBUKAN’, artinya mata air. Mata air ini difungsikan oleh penduduk dari desa desa sekitarnya untuk mencari air minum dan tempat ‘pesiraman’ atau ‘penyucian’ para dewa, oleh karena itu, mata air itu disakralkan oleh penduduk sekitarnya. Dari mata air inilah Raja Karangasem mendapat ide untuk mendirikan sebuah taman.

 
Taman Tirta Gangga merupakan sebuah taman yang lebih diutamakan untuk tempat permandian karena air yang keluar dari mata air yang sangat jernih dan dingin,menyebabkan para wisatawan yang berenang di kolam itu menjadi segar bugar. Disamping memiliki air yang jernih taman ini juga memiliki udara yang sangat segar. Dulunya taman ini hanya dipakai oleh kelurga kerajaan saja,tetapi sekarang telah di buka untuk umum. Di sampinmemiliki air yang jernih dan dingin, juga udara yang sejuk menyebabkan Taman Tirta Gangga ini sangat mempesona para wisatawan. Beberapa bangunan dan hiasan sengaja dibuat sesuai dengan spirit dari Puri Agung Karangasem, sehingga antara Taman Tirta Gangga maupun Taman Sukasada yang terletak di Desa Ujung menjadi suatu kesatuan.

10). Taman Sukasada (Taman Ujung), Karangasem, Kabupaten Karangasem. 


Taman Soekasada Ujung Karangasem yang lebih dikenal dengan nama di Taman Ujung, terletak di Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, sekitar 85 km dari Bandar Udara Ngurah Rai atau 5 km dari Kota Amlapura, ibukota kabupaten. Waktu tempuh dari Denpasar sekitar 1 jam 45 menit. Kompleks Taman Ujung ini merupakan kombinasi dari arsitektur Bali dan Eropa. View yang ditawarkan adalah tiga kolam besar yang dihubungkan dengan dua jembatan yang panjang.

Di taman ini terdapat tiga buah kolam besar dan luas, di tengah kolam paling utara terdapat bangunan utama yang dihubungkan oleh dua buah jembatan. Di sebelah kolam terdapat taman dan pot bunga serta patung-patung. Bentuk bangunan sangat megah dan khas karena perpaduan antara arsitektur Eropa dan Bali.
Di sebelah Barat kolam di tempat yang agak tinggi terdapat sebuah bangunan yang berbentuk bundar disebut "Bale Bengong" tempat untuk menikmati keindahan taman dan sekitarnya. Untuk mencapai puncak perbukitan sebelah Barat Taman dibuat undak-undakan yang tinggi dan lebar. Di sebelah Utara taman di atas bukit terdapat patung Warak yang besar di bawahnya patung banteng dan dari mulut kedua patung ini air memancur keluar menuju kolam. Dari puncak bukit ini kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang betul-betul indah dan mengagumkan. 
Jauh di sebelah Timur Laut terlihat Bukit Bisbis yang hutannya subur menghijau, di arah Selatan terlihat laut luas membentang dan di sekitar Taman terlihat petak-petak sawah menghijau perpaduan alam pegunungan dan alam laut inilah yang merupakan daya tarik taman ini bagi para wisatawan. Sayang peninggalan budaya yang megah ini sebagian telah hancur akibat gempa bumi yang terjadi pada waktu Gunung Agung meletus, terutama sekali akibat gempa yang terjadi tahun 1979. Meskipun kini tinggal puing-puing saja, tapi kesan megah di masa lalu masih tampak dan keindahan panoramanya tetap mengagumkan.

11). Taman Narmada, Narmada, Kabupaten Lombok Barat.

Taman Narmada terletak di Desa Lembuah, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, sekitar 10 kilometer sebelah timur Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Taman yang luasnya sekitar 2 ha ini dibangun pada tahun 1727 oleh Raja Mataram Cakranegara, Anak Agung Ngurah Karang Asem, sebagai tempat upacara Pakelem yang diselenggarakan setiap purnama kelima tahun Saka (Oktober-November). Selain tempat upacara, Taman Narmada juga digunakan sebagai tempat peristirahatan keluarga raja pada saat musim kemarau.


Nama Narmada diambil dari Narmadanadi, anak Sungai Gangga yang sangat suci di India. Bagi umat Hindu, air merupakan suatu unsur suci yang memberi kehidupan kepada semua makhluk di dunia ini. Air yang memancar dari dalam tanah (mata air) diasosiasikan dengan tirta amerta (air keabadian) yang memancar dari Kensi Sweta Kamandalu. Dahulu kemungkinan nama Narmada digunakan untuk menamai nama mata air yang membentuk beberapa kolam dan sebuah sungai di tempat tersebut. Lama-kelamaan digunakan untuk menyebut pura dan keseluruhan kompleks Taman Narmada.

Kompleks Taman Narmada yang ada di Lombok itu dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu gerbang utama, jabalkap, telaga kembar, gapura gelang/paduraksa, mukedes, telaga padmawangi, balai loji, balai terang, patandaan, bangunan sakapat, balai bancingah, Pura Kelasa dan Pura Lingsar. Unsur-unsur bangunan yang lain sebenarnya masih banyak, antara lain pancuran sembilan (siwak) yang letaknya di atas Segara Anak. Bentuk bangunannya dorogancet dengan dua bagian terpisah menyerupai bangunan tradisional di Jawa Tengah. Bangunan ini termasuk bangunan sakral baik bagi penganut Hindu Dharma maupun penganut Waktu Tilu.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Liar and His Lover OST Full

Macam Varian Dialek-Dialek Bahasa Jawa

Sejarah Dinasti Joseon

Biografi Sri Susuhunan Pakubuwono X (1866-1939)

Sejarah Tari Remo

Fakta Seputar Sekolah di Korea Selatan

Kompleks Bangunan Keraton Surakarta

Istana-Istana Kerajaan di Indonesia