✳ Selamat Datang ---- Wilujêng Rawúh ---- Welcome ---- Bienvenue ---- Добро ---- Karşılama ---- 欢迎光临 ---- 환영 ---- ようこそ ---- ยินดีต้อนรับ ---- वेलकम ---- أهلا وسهلا ✳

Selasa, Oktober 04, 2011

Perkembangan Islam di Korea Selatan

Seoul Central Mosque, Itaewon

Setidaknya ada sekitar 45.000 orang penganut agama Islam di Korea, tidak termasuk tenaga kerja Muslim yang bekerja di Korea. Islam juga merupakan agama yang berkembang dengan pesat di Korea Selatan. Termasuk juga pekerja-pekerja Korea yang memeluk agama Islam yang pulang dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi.
Di Korea Selatan, populasi orang Islam semakin meningkat sejak pengenalan agama tersebut tak lama selepas Perang Korea. Masyarakat Islam (kelahiran Korea dan asing) terpusat di sekitar Seoul.
Terdapat pertumbuhan pelan tapi nyata perpindahan orang-orang Timur Tengah (Iran, Irak, Kuwait dan Qatar) beserta Pakistan, Turki, Indonesia, dan Malaysia ke Korea Selatan yang mayoritas beragama Islam semasa tahun 1990-an dan 2000-an, biasanya datang sebagai tenaga kerja ke negara ini.
Di balik fakta bahwa orang Islam Korea adalah masyarakat yang kecil, mereka merupakan sebagian daripada struktur berbagai agama masyarakat Korea yang merupakan penganut agama Buddha, ajaran Tao dan agama Kristen. Islam dalam bahasa Korea adalah 이슬람 (Iseullam).

Sejarah Awal

Dari pertengahan hingga akhir abad 7, pedagang-pedagang Islam telah dikenal dari Khilafah yang pergi ke negara Cina Tang serta membuat perhubungan dengan Silla, salah satu daripada Tiga Kerajaan Korea. Pada tahun 751, general Cina Gao Xianzhi telah memimpin Pertempuran Talas bagi pihak Cina Tang melawan Bani Abbasiyah namun tewas. Rujukan paling tua bagi Korea dalam karya geografi bukan Asia Timur muncul dalam Tinjauan Umum Terhadap Jalan-jalan dan Kerajaan-kerajaan oleh Ibn Khurdadbih pada pertengahan abad 9.
Perhubungan skala kecil dengan bangsa-bangsa yang mayoritas beragama Islam, khususnya orang Uyghur, terus berjalan. Satu perkataan dalam bahasa Korea bagi Islam, hoegyo (회교, 回敎) datang daripada huihe (回紇), satu nama lama Cina bagi orang Uyghur. Semasa tempoh akhir Goryeo, terdapat masjid-masjid di ibukota Gaeseong.[10] Semasa pemerintahan Mongol di Korea, orang-orang Mongol amat bergantung pada orang Uyghur untuk membantu mereka menguruskan kerajaan mereka yang luas itu karena pengalaman orang Uyghur dalam pengurusan jaringan-jaringan perdagangan yang berkembang luas.

Al Fatah Mosque, Busan

Semasa Perang Korea, Turki mengirim tentara kedua terbanyak (setelah Amerika Serkat) untuk membantu Korea Selatan di bawah arahan PBB. Di samping sumbangan mereka dalam medan pertempuran, orang Turki juga membantu dalam kerja kemanusiaan, membantu mengurus sekolah-sekolah masa perang bagi anak-anak yatim akibat peperangan. Tidak lama selepas perang itu, beberapa orang Turki yang ditempatkan di Korea Selatan sebagai pasukan PBB mulai mengajari orang-orang Korea mengenai Islam. Persatuan Orang Islam Korea berdiri pada tahun 1955, ketika masjid pertama di Korea Selatan dibangun. Persatuan Orang Islam Korea berkembang cukup besar sehingga menjadi Persekutuan Orang Islam Korea pada tahun 1967.

Sekarang

Pada tahun 1962, kerajaan Malaysia telah menawarkan bantuan US$ 33,000 untuk sebuah masjid yang akan dibangun di Seoul. Walau bagaimana pun, rancangan tersebut terbantut akibat inflasi. Minat terhadap Islam mula meningkat hanya bermula pada sekitar 1970-an ketika hubungan ekonomi Korea Selatan dengan banyak negara Timur Tengah menjadi kentara. Sebagian orang Korea yang bekerja di Arab Saudi telah memeluk Islam; apabila mereka menyempurnakan lama kerja masing-masing dan pulang ke Korea, mereka memastikan bilangan orang Islam asli. Masjid Pusat Seoul akhirnya dibangun di Itaewon, Seoul pada tahun 1976. Hari ini terdapat juga masjid di Busan, Anyang, Gwangju, Jeonju and Daegu. Menurut Lee Hee-Soo (Yi Hui-su), terdapat lebih kurang 40,000 orang Islam yang berdaftar di Korea Selatan, dan lebih kurang 10.000 dianggarkan adalah penganut yang saleh.
Yayasan Muslim Korea menyatakan bahwa ia akan membuka sekolah dasar Islam yang pertama dan akan dinamakan Sekolah Dasar Putra Sultan Bin Abdul Aziz pada bulan Mei 2009 dengan maksud untuk membantu orang Islam di Korea mempelajari agama mereka dan mengikuti kurikulum yang resmi. Rancangan sedang dijalankan untuk membuka sebuah pusat kebudayaan, sekolah-sekolah menengah dan universitas. Abdullah Al-Aifan, Duta Arab Saudi ke Seoul telah mengirimkan $ 500,000 kepada yayasan tersebut bagi pihak kerajaan Arab Saudi.
Banyak orang Islam Korea mengatakan perbedaan gaya hidup mereka membuatkan mereka dapat berdiri teguh dibanding orang lain dalam masyarakat. Walau bagaimana pun, kebimbangan terbesar mereka ialah sikap trauma yang dirasakan mereka selepas peristiwa 11 September 2001, ketika banyak orang menunjukkan minat terhadap ide-ide keislaman.
Tak dapat dipungkiri ditengah maraknya drama Korea dan musik kpop di seluruh dunia, pariwisata Korea pun ikut terdongkrak. Bahkan negeri ginseng tersebut kini telah memperkenalkan wisata halal kepada para wisatawan di seluruh dunia termasuk penyediaan restoran halal.
Sejak tahun lalu, Korea rupanya telah menyadari bahwa wisatawan dari negara-negara Asia dan Timur Tengah menjadi salah satu penyumbang devisa di bidang pariwisata. Namun salah satu kendala yang seringkali dihadapi para wisatawan muslim tersebut adalah ketersediaan makanan halal dan tempat menunaikan ibadah (mushola).
Di Korea sendiri sebagian besar makanannya banyak yang terbuat dari daging babi (non halal). Hal tersebut dikarenakan Islam di Korea hanya posisi minoritas yaitu sekitar 200.000 – 250.000 jiwa (data tahun 2010) alias kurang dari 10% dari jumlah penduduk. Selain itu mereka juga biasa mengkonsumsi arak saat bersantap. Padahal dalam agama Islam, kedua hal tersebut justru harus dihindari dan tidak boleh dikonsumsi.
Namun saat ini di Korea Selatan pengembangan agama Islam sudah tampak makin meluas terutama di kota besar seperti Busan. Perubahan tersebut ditandai dengan kemunculan masjid-masjid yang sudah banyak tersebar hampir di seluruh kota besar di Korea Selatan.
Bahkan kini para wisatawan muslim boleh berlega hati, karena Korea Tourism Organization (KTO) telah mengkampanyekan wisata halal. Salah satu aksi yang dilakukan KTO guna menarik wisawatawan muslim adalah dengan penyediaan luchbox halal dan memperbanyak sarana ibadah bagi kaum muslim.
Selain itu untuk membidik wisatawan muslim sejumlah restoran halal juga sudah banyak dijumpai. Sebagian besar restoran halal tersebut adalah restoran yang menyajikan menu-menu India, Timur Tengah, dan Vegetarian. Misalkan saja Asalba yang dimiliki oleh seorang warga Pakistan yang tinggal di Korea. Ganga Restaurant sendiri telah menyajikan menu-menu halal India di Korea sejak lebih dari 10 tahun lalu. Kemudian ada Salam Restaurant yang cukup populer karena berlokasi dekat Seoul Central Masjid di Itaewon.

Islam eratkan hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan

Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah asal Korea Ali An Sun Geun mengatakan Indonesia-Korea Selatan menciptakan jembatan budaya melalui penyebarkan agama Islam.
Demikian yang disampaikan Ali An Sun Geun dalam peluncuran buku “Islam Damai di Negeri Asia Timur Jauh, Meneropong penyebaran dan dinamika di Korea’ di Jakarta, .
Dalam peluncuran dan bedah buku tersebut dihadiri rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komarudin Hidayat, Sekretaris Fraksi Partai Golkar Ade Komarudin, Anggota DPR Fraksi Demokrat Imran Muchtar Alifia dan sejumlah tokoh dan perwakilan Duta Besar Korea.

Dalam bukunya Ali menyampaikan bahwa beberapa tahun silam telah terjadi booming khas budaya Korea yang disebut Korean wave antara Indonesia dan Korea selatan di bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya dan lainnya.
“Indonesia akan bekerja sama di bidang pertukaran informasi tentang budaya islam dan diharapkan dengan terjalinnya hubungan kerjasama ini akan menciptakan jembatan budaya antar kedua negara,” katanya.
Ketertarikan Ali dengan Islam terjadi sejak masih Sekolah Menengah Atas di Korea yang membawa Ali merantau ke Indonesia dan menimba ilmu islam di IAIN Syarif Hidayatullah dan berhasil sebagai sarjana Fakultas Dakwah. Ali juga mengambil magister Antropologi Agama di Universitas Indonesia (UI). Setelah itu, Ali juga mengambil gelar doktor di UIN Syarif Hidayatullah. Saat ini Ali giat berdakwah di Korea.
Geliat dakwah di negeri Ginseng ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang menggembirakan. Ali yang juga dosen Metodologi Dakwah dan Kewirausahaan pada UIA (Universitas Islam As-Syafi’iyah) mengatakan saat ini, tak kurang dari 30 ribu warga Korea Selatan telah memeluk agama Islam.
Semangat keagamaan juga sudah sangat terasa. Mulai dari diskusi, pengajian serta kegiatan dakwah lainnya di berbagai masjid yang ada di kota-kota besar Korea Selatan seperti di Seoul dan Busan.
“Sekarang perkembangan Islam di Korea Selatan sangat menggembirakan. Dibanding dasawarsa lalu cukup bergeliat. Dakwah Islam semakin intens sejak tahun 1955 setelah perang antara Korea Selatan dan Korea Utara,” katanya.
Dalam bukunya, Ali juga mengupas sejarah masuknya Islam ke Korea itu yang juga didukung oleh penduduk Korea.
“Orang Korea yang masuk Islam pertama kali bernama Muhammad Jun Du Young, beliau adalah sebagai Muslim Korea pertama yang memimpin agama Islam di Korea Selatan. Mulai saat itu berkembang sampai sekarang sekitar 30 ribu orang sudah menganut agama Islam dan lebih dari tujuh buah masjid berada di Korea,” katanya.
Bagi orang Korea, lanjut Ali, agama Islam sangat berkesan. Pada tahun 1980-an orang Korea banyak yang bekerja di luar negeri khususnya di Timur Tengah sehingga selain bekerja, mereka juga mempelajari Islam.
“Begitu kembali ke Korea, mereka menyebarkan agama Islam kepada warga setempat. Kita lihat, masjid Korea mencontoh masjid di zaman Rasulullah. Berada di tengah-tengah kota Seoul, lantai pertamanya tempat perdagangan dan bisnis,” jelasnya.
Menurut Ali yang menarik di Korea, orang-orang yang sudah belajar agama Islam di luar negeri, ketika kembali ke Korea Selatan mereka giat menyebarkan dakwah Islam. Kegiatan dakwah orang-orang Korea sangat intens. “Kita mengutamakan dakwah bilhal (dakwah dengan perbuatan),” katanya.
Menanggapi hal ini, Komarudin Hidayat mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi tulisan Ali yang sudah 26 tahun tinggal di Indonesia dan memeluk agama Islam.
“Ia merupakan salah satu juru bicara Indonesia tentang Islam bagi pemerintah dan masyarakat Korea Selatan, demikian sebaliknya Ali merupakan nara sumber terdekat untuk mengetahui perkembangan islam di Korea,” katanya.
Lebih lanjut, buku yang ditulisnya ini juga merupakan konstribusi yang amat berharga bagi semua golongan untuk mengenal lebih dekat perkembangan islam di Korea Selatan.
“Semoga buku ini juga menjadi aspirasi dan dorongan kepada semua pihak, khususnya bagi lembaga pendidikan untuk memperkuat kerjasama dengan perguruan tinggi dan pusat-pusat studi kebudayaan di sana,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Ade komarudin yang menilai bahwa buku ini merupakan buku pertama yang diterbitkan di Indonesia yang mengisahkan tentang sejarah dan perkembangan Korea.
Kedekatannya dengan Ali sejak sama-sama kuliah di UIN Syarif Hidayatullah terus berlanjut. “Saya berharap beliau akan terus berpestasi dengan karya-karya intelektual yang mampu memberikan aspirasi, semangat dan motivasi kepada generasi muda,” katanya.

(dari berbagai sumber)


* * *

4 Komentar:

Anonim mengatakan...

assalamualaikum
mba boleh ga saya copas artikel ini untuk tugas sekolah ?

Bimo Kusumo Aji mengatakan...

@anonim : Waalaikumussalam ... Oke monggo silahkan, eh ngomong" saya bukan 'mbak' ya .... ;)

Anonim mengatakan...

assalamu'alaikum... artikel yang bener2 keren...
berharap suatu saat nanti saya bisa menjadi bagian perjuangan menyebarkan agama islam di korea selatan dan jepang... aamiin :)
terimakasih untuk infonya..:)
@liana_san1

Bimo Kusumo Aji mengatakan...

@liana_san1 : Waalaikumussalam ... Sama sama, makasih juga sudah berkunjung ke blog saya, artikel ini bersumber dari berbagai info yg saya sadur dan simpulkan sendiri. Semoga niat baik anda tercapai :)

Poskan Komentar

SRISUDEWA. Diberdayakan oleh Blogger.