Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Biografi Dalang: Ki Manteb Soedharsono

Rabu, Oktober 19, 2011 Bimo Kusumo Aji 0 Comments Category :


Ia dijuluki “dalang setan” karena kemampuannya menggerakkan wayang (sabetan) dengan sangat cepat dan berputar-putar. Pertunjukan wayangnya semakin memukau karena ia memakai peralatan musik modern ke atas pentas dan mengusung isu-isu yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Berkat keahliannya sebagai dalang yang membawa arus pembaharuan di dunia wayang kulit, ia telah berhasil meraih beberapa penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Ki Manteb Soedharsono lahir pada hari Selasa Legi, 31 Agustus 1948 di Dukuh Jatimalang, Kelurahan Palur, Kecamantan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah. Ki Manteb dibesarkan di tengah keluarga dalang. Kakeknya (Dalang Tus) adalah seorang dalang kondang, dan ayahnya, Ki Hardjo Brahim Hardjowijoyo juga seorang dalang yang pada masa kejayaannya cukup disegani, sedangkan ibunya adalah pesinden dan pengrawit yang berpengalaman.

Sejak kecil Ki Manteb Soedharsono sangat rajin dan tekun mengikuti pementasan orang tuanya. Pengalaman masa kecilnya yang begitu akrab dengan seluk-beluk dunia pewayangan telah membentuk pribadi Ki Manteb kaya akan memori dunia pertunjukan wayang kulit. Kedisiplinan sang ayah dalam mendidiknya, menjadikan kemampuan dan keterampilan Ki Manteb kecil terus berkembang. Pada saat berusia 5 tahun, ia sudah dapat memainkan wayang dan manabuh beberapa instrumen gamelan seperti demung, bonang dan kendang. Menatah wayangpun diajarkan oleh Ki Hardjo Brahim kepadanya. Tak heran, saat usianya menginjak 10 tahun, Ki Manteb sudah mampu menatah wayang kulit dengan bagus.

Ki Manteb bersama gubernur Jawa Timur Soekarwo
Sementara sang ibu yang juga seorang seniman, penabuh gamelan, lebih suka jika putranya itu memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi dalang. Oleh karena itu, ia pun memasukan Ki Manteb ke STM Manahan, Sala. Namun nasib berkata lain, karena bakat dan kemampuannya telah terasah sejak kecil, Ki Manteb laris sebagai dalang. Kesibukannya mendalang membuat pendidikannya terbengkalai. Hal ini membuat Ki Manteb harus memilih antara pendidikan di sekolahnya atau meniti karier sebagai dalang. Akhirnya, ia memutuskan untuk berhenti sekolah demi mendalami karier mendalang.

Tuntutan dan tantangan dari ayahnya untuk meneruskan garis dinasti dalang kondang memacu Ki Manteb muda berjuang keras dan berlatih, dibarengi dengan proses tirakat laku bathin yang dilakoninya dengan sungguh-sungguh. Pada usianya yang relatif muda (14 tahun), Ki Manteb telah mampu menguasai seluruh instrumen musik gamelan. Ia pun pernah dikenal sebagai tukang kendang cilik yang mumpuni dan sering mengiringi pertunjukan wayang yang digelar oleh dalang sepuh, Ki Warsino dari Baturetno, Wonogiri. Kesempatan itu pun ia manfaatkan untuk menimba ilmu pedalangan dari Ki Warsino.

Agar lebih dapat meningkatkan keahliannya, Ki Manteb banyak belajar kepada para dalang senior. Misalnya, ia belajar dari dalang legendaris Ki Narto Sabdo yang mahir dalam seni dramatisasi pada tahun 1972, dan dari Ki Sudarman Gondodarsono yang ahli sabet (seni menggerakkan wayang) pada tahun 1974. Pada tahun 1982, berkat gemblengan dari dua dalang senior itu dan sang ayah, Ki Manteb berhasil menjuarai Pakeliran Padat se-Surakarta.



Ki Manteb saat pentas di Paris, Perancis

Ketika Ki Narto Sabdo meninggal dunia tahun 1985, seorang penggemar beratnya bernama Soedharko Prawiroyudo merasa sangat kehilangan. Ia kemudian bertemu murid Ki Narto, Ki Manteb, yang dianggap memiliki beberapa kemiripan dengan gurunya itu. Ki Manteb pun diundang untuk mendalang dalam acara khitanan putra Soedharko.

Sejak itu, hubungan keduanya semakin akrab. Soedharko kemudian bertindak sebagai promotor pergelaran rutin Banjaran Bima di Jakarta yang dipentaskan oleh Ki Manteb. Pergelaran tersebut diselenggarakan setiap bulan sebanyak 12 episode sejak kelahiran sampai kematian Bima, tokoh Pandawa. Pergelaran itulah yang kemudian membuat nama Ki Manteb sebagai seniman tingkat nasional mulai diperhitungkan publik.

Ki Manteb mengaku hobi menonton film kung fu yang dibintangi Bruce Lee dan Jackie Chan. Aksi laga para jagoan kesayangannya itu kemudian diterapkan ketika mendalang sebuah lakon. “Saya mengembangkan teknik sabetan itu dari film-film Bruce Lee dan Jacky Chan. Gerakan kungfu itulah yang memberi saya inspirasi dalam sabetan,” kata ayah enam anak ini.
ghhf

Untuk mendukung dramatisasi sabet yang dimainkannya, Ki Manteb pun membawa peralatan musik modern ke atas pentas, misalnya tambur, biola, terompet, ataupun simbal. Pada awalnya hal ini banyak mengundang kritik dari para dalang senior karena dianggap melenceng dari pakem-pakem yang sudah ada. Namun tidak sedikit pula yang mendukung inovasi Ki Manteb. 

 

Untuk mendukung dramatisasi sabet yang dimainkannya, Ki Manteb pun membawa peralatan musik modern ke atas pentas, misalnya tambur, biola, terompet, ataupun simbal. Pada awalnya hal ini banyak mengundang kritik dari para dalang senior karena dianggap melenceng dari pakem-pakem yang sudah ada. Namun tidak sedikit pula yang mendukung inovasi Ki Manteb. Karena keterampilannya dalam mendalang, Ki Manteb diberi julukan dalang setan oleh para penggemarnya.



Ketika Ki Manteb menyerahkan wayang Bima kepada Presiden SBY

Julukan dalang setan itu diberikan pertama kali pada tahun 1987 oleh mantan menteri penerangan Boedihardjo, seusai menyaksikan Ki Manteb mendalang. Julukan itu bukan karena sang dalang jahat, tetapi justru sebagai bentuk kekaguman Boedihardjo terhadap sabetan (cara menggerakkan wayang kulit) yang dimiliki Ki Manteb. Ki Manteb bisa memainkan beberapa wayang sekaligus, dengan gerakan secara cepat dan berputar-putar dalam lakon peperangan yang luar biasa mencengangkan. Bagi penikmat wayang, gerakan-gerakan tersebut dianggap luar biasa dan tidak bisa dilakukan oleh sembarang dalang.

Misalnya dalam ramainya perang, tiba-tiba tokoh yang tadinya terdesak, tiba-tiba memegang senjata dan ganti memukul lawannya. Menurut Ki Manteb, semua itu bukan sulap bukan sihir, namun berkat ketekunan melatih kecepatan gerak tangan dan kemampuan mengalihkan perhatian penonton. Untuk mendukung kemampuan sabetnya, Ki Manteb sangat kreatif dan sangat teliti mendesain wayangnya. Mulai dari ketebalan kulitnya, pola hiasannya, gapitan sampai wandanya.

Meskipun menekankan pada aspek keindahan visual namun pakeliran gaya Ki Manteb pada akhirnya tidak saja tampil sebagai tontonan yang menghibur tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk melakukan dialog reflektif dengan kenyataan hidup yang dihadapi bersama, sarat dengan pesan-pesan moral baik berupa kritik-kritik terhadap pemerintah dan masyarakat, maupun harapan-harapan yang mendorong semangat optimistik bagi masyarakat penontonnya. Dalam setiap pertunjukannya, Ki Manteb selalu mencoba memaknai dan menafsir ulang lakon yang disajikan. Tak jarang juga, Ki Manteb mengadopsi pola penyusunan alur dramaturgi film dalam lakon-lakon wayangnya, seperti mempergunakan alur flashback. Penyusunan plot cerita yang kontekstual dengan isu-isu atau kondisi yang sedang berkembang di masyarakat menjadikan pertunjukannya selalu up to date.

Ki Manteb menerima gunungan dari Menkopolhukam Wiranto

Kreativitas dan inovasi-inovasi yang intens dilakukan Ki Manteb mampu membawa pertunjukan wayangnya menjadi pertunjukan akbar yang ditonton oleh ribuan orang. Popularitas yang luar biasa itulah yang mengilhami sebuah produk obat “Oskadon” menjadikan Ki Manteb sebagai brand image untuk mendongkrak omzet penjualan dengan jargon “Oskadon Pancen Oye”. Hasilnya pun sangat fantastis, omzet pemasaran naik hingga lebih dari 400%. Kerjasama yang telah berlangsung dari tahun 1990 hingga sekarang membuat produk tersebut sangat lekat dengan image Ki Manteb. Julukan “Dalang Oye” pun diberikan masyarakat kepadanya.

Popularitas itu terus bertahan. Penontonnya tersebar di berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa namun juga di luar Jawa. Sudah ribuan pementasan dia gelar dengan berbagai maksud dan kepentingan, seperti untuk acara ruwatan, pesta hajatan, kampanye politik ataupun gelaran pentas untuk menyosialisasikan beragam program pemerintah seperti Keluarga Berencana (KB), Anti HIV AIDS dan Narkoba, sosialisasi pemilu dan lain-lain. Ki Manteb juga tak jarang menggelar pertunjukkan di sejumlah daerah tanpa bayaran. Dari sekian banyak lakon yang pernah ia mainkan, beberapa lakon menjadi sangat fenomenal, seperti “Banjaran Bima”,“Ciptoning”, “Wiratha Parwa”, “Dewa Ruci”, dan lain-lain. Sebuah lakon special “Celeng Degleng” merupakan lakon carangan Ki Manteb sendiri ketika menginterpretasi lukisan-lukisan karya Djoko Pekik “Berburu Celeng” yang menggambarkan tumbangnya rezim Soeharto.

Beberapa pertunjukan wayang kulit di luar negeri pun pernah Ki Manteb lakukan seperti di Amerika Serikat, Spanyol, Jerman, Jepang, Suriname, Belanda, Perancis, Belgia, Hongaria dan Austria. Ketika kesenian wayang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible of Heritage of Humanity, Ki Manteb terpilih mewakili komunitas dalang indonesia untuk menerima penghargaan tersebut.

Beberapa penghargaan sudah diterima oleh Ki Manteb. Pada Tahun 1995, ia mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto berupa Satya Lencana Kebudayaan. Kemudian pada tahun 2004, Ki Manteb memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) karena kegemilangannya mendalang selama 24 jam 28 menit tanpa istirahat pada acara Ultah RRI Semarang.



Ki Manteb menerima piagam penghargaan Nikkei Asia Prize
Pada 19 Mei 2010, Ki Manteb menerima penghargaan budaya dari Nikkei Asia Prize, sebuah penghargaan dari penerbitan koran terbesar di Tokyo, Nihon Keiza Shimbun (Nikkei). Nikkei melihat dedikasi Ki Manteb yang sangat besar dalam melestarikan dan menekuni wayang kulit. Ki Manteb juga mampu menyebarkan dan menyajikan pertunjukan wayang yang memukau masyarakat tidak hanya di Indonesia namun juga di berbagai belahan dunia.

Selain gaya pedalangan yang atraktif, Ki Manteb juga dikenal sebagai pelopor dalam hal manajemen keuangan. Honor hasil pentas tidak dihabiskan langsung, melainkan dikelola oleh manajernya. Ki Manteb memiliki banyak kru dalam setiap pementasannya. Ia juga membutuhkan biaya perawatan untuk armada dan peralatan mendalangnya. Manajemen yang baik amat diperukan agar tidak bernasib sama seperti dalang lainnya yang semasa muda hidup berlimpah karena laris, namun setelah tua menderita kekurangan.



(dari berbagai sumber)

RELATED POSTS

0 Komentar